SD PLUS TADIKA RAYA

SD PLUS TADIKA RAYA
MENCETAK GENERASI BERAKHLAK MULIA BERWAWASAN LUAS BERDASARKAN AL-QUR'AN

22 Juli 2020

BEBAN YANG SEIMBANG DENGAN KEMAMPUAN

Posted by S2D  |  at  Juli 22, 2020


BEBAN YANG SEIMBANG DENGAN KEMAMPUAN

Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe

Bagi siapa saja yang membaca al-Qur'an, secara sadar atau tidak pasti menjumpai Q.S. al-Baqarah/2:286, al-An`am/6:152, al-A`raf/7:42, al-Mu'minun/23:62. Ayat pertama menyebutkan لا يكلف الله نفسا إلا وسعها. Dimana yang membebani adalah Allah dengan dhamir “hua”, sementara tiga ayat terakhir kalimatnya لا نكلف الله نفسا إلا وسعها, dimana yang membebani itu Allah dengan dhamir “nahnu”.

Makna secara umum, tidak ada suatu beban atau tugas dimana Allah ikut yang memberi beban yang tidak mampu ditanggung oleh manusia. Terhadap beban ini, ada beban yang hanya dipikulkan oleh Allah kepada manusia, ada beban yang dipikulkan oleh manusia dan diridhai oleh AllahAda dua persoalan utama dalam hal ini. Pertama, mana beban yang dipikulkan oleh Allah sendiri kepada manusia. Kedua, ada beban yang dipikulkan oleh Allah lewat manusia. Ketiga, ada beban yang dipikulkan oleh manusia dan Allah tidak ikut campur dalam urusan ini.

Beban yang langsung dipikulkan oleh Allah kepada manusia adalah syariat-syariatnya, seperti melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan haji.  Dua syariat yang pertama, tidak berhubungan dengan harta, sementara dua syariat terakhir berhubungan dengan harta. Terhadap dua yang pertama tidak perlu dibahas karena umumnya orang paham bahwa orang yang tidak melaksanakannya bukan karena ia tidak mampu. Dua syariat yang terakhir, zakat dan haji. Jika harta yang wajib dizakati, jika dilaksanakan, pasti membuat rezeki itu mentambah berkah, harta-harta yang dizakati itu akan terus bertambah dengan cara dan waktu yang tidak diketahui oleh manusia. Bisa saja, padi yang dizakati, pendapatan sawah itu akan bertambah banyak, bisa juga yang menzakati dan keluarganya bertambah sehat. Bisa juga anak yang menzakati itu tidak menyusahkan di sekolah dan bahwa menjadi kebanggaan karena prestasi dan keahliannya, sehingga yang berzakat itu tambah berbahagia, begitu dan seterusnya. Sementara dalam hal syariat haji. Bagi siapa yang telah membuka tabungan haji, maka Allah telah membuka pintu baginya untuk berangkat haji. Bagaimana bisa, tentu lah dengan usaha dan doa. Orang yang ikhlas membuka tabungan haji dan berusaha bersunggung-sungguh, sambil mengamalkan doa rutin, “Ya Allah beri aku rezeki untuk bisa menyempurnahkan tabungan haji, agar bisa menjalankan syariatMu”. Kemungkinan usahanya bisa lebih bagus, tidak mustahil juga esok lusa ada yang menderma, sehingga tabuhan haji menjadi sempurna. Begitu dan seterusnya, bagaimana melengkapi tabungan haji itu, usaha dan doa, serta keyakinan harus ditanam secara kokoh.

Bagaimana dengan beban yang dipikulkan oleh Allah lewat manusia. Semua beban hidup dijalan Allah, itu berupa beban Allah lewat manusia. Salah satunya, menyekolahkan anak. Bagaimana memahami bahwa menyekolahkan anak adalah beban manusia yang dipikulkan oleh Allah lewat manusia. Masuk sekolah perlu biaya-biaya, baik di sekolah yang ditanggung oleh Negara seperti SD dan SMP sederajat, ada biaya-biaya yang dikeluarkan seperti beli pakean dan peralatan sekolah maupuan transfortasinya. Apalagi di sekolah yang dibebankan kepada orang tua seperti sekolah di lembaga-lembaga swasta. Apa benar ini beban dari Allah lewat sekolah? Jawabannya benar, ini beban Allah untuk orang tua. Allah di antaranya menyebut dalam Q.S. al-Zumar/39:9, bahwa tidak sama orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Orang berilmu itu lebih dekat dengan Allah. Untuk itu, Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu (Q.S. al-Mujadalah/58:11).  Inilah diantara dasar bahwa menyekolahkan anak dimana saja pun sudah digaransi atau dijamin oleh Allah bahwa orang tua memiliki potensi atau bakal kemampuan. Yang diberikan oleh bukan lah materi, tetapi kemampuan. Siapa yang tidak menggunakan kemampuannya untuk mendapat rezeki itu, maka beban itu tidak bisa dipikul.

Ilustrasi potensi atau bakal kemampuan itu segini, jika Allah menyuruhkan kita dari Gunung Tua ke Padangsidimpuan. Allah telah menyediakan sepeda motornya, katakanlah Honda Beat Street, lengkap dengan segala sesuatunya, termasuk bensinnya, tidak membawanya saja. Sementara, orang yang punya itu belum bisa mengenderai sepeda motor itu, maka usaha orang tersebut belajar naik sepeda motor agar bisa sampai ke Padangsidimpuan. Jika dia tidak belajar, maka beban itu tidak bisa dipikul dan yang salah adalah manusia.

Dalam konsep beban sekolah itulah, orang tua punya optimisme mampu menyekolahkan anak setinggi-tingginya. Jika tidak termasuk orang yang punya, usahanya harus lebih giat dari orang yang punya. Jika orang kaya dalam seminggu cukup kerja satu hari sudah bisa menutupi kebutuhannya, yang tidak punya harus rela bekerja lebih dari satu hari atau bekerja 7 hari dalam seminggu, atau seperti istilah seorang pengusaha, “ulang do 30 ari iba karejo dalam sabulan, baen 40 ari”. Mana ada jumlah hari dalam sebulah 40? Ini adalah bahasa bahwa kita harus bekerja keras dan cerdas. Banyak buktinya orang yang miskin bangkit menjadi orang kaya, walaupun kalau kaya belum tentu baik. Yang pasti baik adalah perubahan dari penerima menjadi pemberi, dari mustahiq menjadi muzakki.  Untuk itu, tidak ulama berdoa agar menjadi kaya. Mereka hanya berdoa agar mereka menjadi orang yang mengeluarkan zakat banyak-banyak. Jika banyak mengeluarkan zakat dengan sendirinya hartanya banyak. Kalau mereka yang kaya, tidak ada zaminan mengeluarkan zakat. Untuk itu, orang kaya yang mengeluarkan zakat lebih baik disebut muzakki.

Dalam analisis bahasa Arab seseorang “al-nafs” dalam ayat di atas muannats (wanita), walaupun zhahirnya mudzakkar (laki-laki). Apa maknanya, sehebat apa pun manusia itu, ia membutuhkan bantuan orang lain. Untuk itulah, membatu seseorang agar kuat dalam segala hal termasuk dalam bidang ekonomi adalah syariat Allah. Di sini perlu membangun program “Membuat orang bahagia”. Dalam teori social, kebersamaan itu membahagiakan. Jika ada orang kaya sendiri, ia bahagian, pasti ia tidak paham kebahagiaan itu. Bersama-sama kaya jauh lebih menyenangkan dan damai. Bersama-sama pintar itu lebih membahagiakan.

Bagaimana dengan beban yang bukan dari Allah. Beban yang bukan dari Allah dapat dilihat beban yang tidak pada jalannya. Contohnya, seseorang bukan usaha dengan meminjam uang dari Bank 1 Miliyar, tiba-tiba bangkrut, dia menuntut Tuhan. Itu tidak dapat disebut beban yang dipikulkan oleh Allah. Allah tidak menyuruh orang untuk berutang banyak-banyak untuk buka usaha. Berusaha disuruh oleh Allah, tapi usaha sesuai dengan kemampuanmu dan dengan cara yang benar.

Orang buka usaha pakter, kemudian kelak dia bangkrut. Tentu lah itu bukan beban yang dipikulkan oleh Allah. Ada bilang, bukan pakter, tidak pernah rugi, dan itu usaha yang gampang. Kebangkrutan itu bukanlah selamanya dalam hal materi dan juga tidak terbatas waktu diwaktu dekat. Tidak ada keburukan yang dilakukan oleh manusia, tidak dibalas oleh Allah di dunia ini. Dengan demikian, membuka pakter pasti merugi. Bentuk dan waktu kerugiannya itulah yang tidak dapat diketahui pasti oleh manusia. Untuk mempelajarinya, tanyalah pensiunan usahawan pakter, mereka akan bisa bercerita banyak, akibat buruk yang mereka rasakan. Allah tidak pernah inkar janji (Q.S. Ali Imran/3:9).

Semoga Bermanfaat.

 

  

About the Author

Write admin description here..

2 komentar:

  1. Semoga kita selalu menjd insan yg bisa bersabar, dan yakin bahwa semua beban yg diemban sudah sesuai dgn 'porsi' kemampuan. Trimakasih utk bacaannya pal 🙏

    BalasHapus

SD Plus Tadika Raya

SD Plus Tadika Raya
Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Saya

Foto saya
Kami Akan Menyajikan Informasi Buat Keluarga Besar Tadika Raya School dan juga Masyarakat Lain yang Membutuhkannya

MASA DEPAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Total Pageviews

Cari Blog Ini

Komentar

4/recentcomments

Terupdate

4/recentposts

Tadika Raya School

Tarikat Menuju Tuhan

Blog ini merupakan media informasi bagi Wali Murid Tadika Raya School dan Masyarakat yang membutuhkan. Dibuat oleh Yayasan Tadika Raya.


Tadika Raya School Aek Haruaya

Postingan Populer

PROFIL

Postingan Populer

Postingan Populer

© 2013 TADIKA RAYA SCHOOL. SD-Plus Tadika Raya | Powered by Blogger.
Blogger Template by Bloggertheme9 Published..Blogger Templates
back to top