NIKMAT
BERBUAT BAIK
DR.
Sehat Sultoni Dalimunthe
Al-Qur’an menyebut 4 istilah untuk
kebaikan. Pertama adalah al-khair, itu adalah kebaikan universal, tidak
mengenal batas-batas geografis, suku, etnis, ekonomi dsb. Contoh, bersikap jujur adalah sebuah kebaikan
universal (al-khair). Kedua adalah al-ma`ruf ini adalah kebaikan
yang terbatas (lokal). Biasanya ini adalah adat istiadat. Ada adat kampung,
mungkin saja ada adat kecamatan, Mungkin juga ada adat Kabupaten, Provinsi,
Nasional, Asean, dsb, tapi tidak berlaku untuk semua manusia dan untuk semua
tempat. Ketika kita berjalan dan melewati orang-orang yang duduk di depan
rumah, di Bandung, biasa orang sambil menunduk, dengan tangan kanan terbuka
miring, kemudian menyebutkan, “punteun: maaf”, maka yang duduk itu pun
menjawab, “mangga: silahkan”. Ini kebaikan di wilayah Sunda dan menjadi
tidak baik dipraktekkan di Paluta. Inilah yang disebut dengan al-ma`ruf,
kebaikan lokal. Ketiga, al-hasan, ini adalah kebaikan dilihat dari
kualitasnya. Contohnya, ketika kita berjumpa dengan teman, kita bersalaman. Ada
juga orang selain bersalaman juga saling mengumbar senyum. Sikap ramah tamah
itu kualitasnya secara psikologis berbeda. Yang membedakan itu adalah perasaan,
yaitu perasaan bahagia. Berbeda dengan orang bersalaman, tapi mukanya masam (barnit).
Keempat adalah al-birr, ini kebaikan dilihat dari kuantitasnya. Seseorang
ada yang bersedekah Rp. 50.000, ada yang bersedekah dengan Rp. 50.000.000, dari
sisi al-birr yang kedua lebih baik dari yang pertama.
Dari empat yang disebutkan di atas,
Allah dalam al-Qur’an hanya menyebut, hendaknya manusia berlomba-lomba berbuat
baik dengan al-khair yang bersifat universal.
Allah hanya dua kali menyebutkan
manusia hendaknya berlomba-lomba dalam berbuat baik (al-khair), yaitu
dalam Q.S. al-Baqarah/2:148 dan al-Maidah/5:48.
Ayat pertama teksnya adalah tentang
kiblat beribadah setiap umat yang berbeda-beda. Masing-masing diminta bersaing
untuk berbuat baik. Jika dihubungkan dengan sekolah contohnya, masing-masing
sekolah berbeda-beda keunggulannya, maka diharapkan semua berlomba mencapai
kebaikan itu dengan sportif dan ikhlas. Sportif berarti tidak usah sibuk
menjelekkan orang lain, cukup kerja kita bersungguh-sungguh mencapai kebaikan
yang universal.
Ayat yang kedua adalah kelanjutan
dari ayat yang pertama persoalan syariat atau jalan menuju finish (hasil).
Bisa disebut yang pertama berlomba-lomba sampai ke batas finish
kebaikan. Sementara yang kedua, berlomba-lomba dalam hal proses. Contoh, ada
orang menuju sukses itu dengan jujur, tanggung jawab, dan taat aturan.
Sementara orang lain menuju sukses dengan kejujuran, tanggung jawab, taat
aturan, dan silaturrahmi. Maka yang terakhir ini lebih baik.
Kenapa yang diminta oleh Allah kita فاسبقوا
الخيرات
bukan فاستبقوا
المعروف bukan juga فاستبقوا
الحسن, dan bukan
juga فاستبقوا البر, hemat
saya wilayah ini punya kesamaan dalam penilaian. Sementara yang lainnya,
ukurannya tidak baku. Contoh al-ma`ruf, sangat segmentatif, baik untuk
orang tertentu saja. Al-Hasan bersifat psikologis dan subyektif.
Sementara al-birr sangat komparatif. Banyak bagi kita, sedikit bagi
orang lain. Contohnya, kita mengasih sedekah anak yatim Rp. 200.000, bisa jadi dinilai
banyak. Smentara Miliyader bersedekah kepada anak yatim Rp. 2.000.000 masih
dinilainya sedikit. Begitu dan seterusnya, jadi فاسبقوا
الخيرات sangat
filosofis dan ilmiah.
Para penggemar kebaikan sudah menemukan
nikmatnya berbuat baik, bagaikan anak-anak yang sudah menemukan kenikmatan
bermain games. Begitu juga pemain catur yang ahli telah menemukan kenikmatan
dalam bermain catur. Penggemar catur, mau mengajak orang yang jago bercatur
dengannya walaupun ia harus mengeluarkan duit untuk meneraktir makan minum lawannya. Semoga, kita
tertarik berbuat baik. Sering-sering berbuat baik, bisa membuat kita candu
berbuat baik. Jika sudah candu berbuat baik, itu berarti sudah menemukan
manisnya kebaikan.
Semoga Bermanfaat.

About the Author

MasyaAllah... Luar biasa
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus