SENANGNYA MEMBERI 2
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
Di Zaman Presiden SBY, ada Bantuan Langsung Tunai untuk
orang-orang tidak mampu. Di sana sini banyak informasi bahwa yang mendapat
bantuan tidak semua tepat sasaran, bahkan orang-orang yang mampu minta diikutkan
mendapat bantuan, dimasukkan pada kelompok orang yang tidak mampu.
Begitu juga disetiap ada bantuan bagi orang yang tidak mampu,
sebagian kelompok yang mampu berusaha ikut menikmati bantuan itu. Terkadang
dengan bangga juga ada yang mengaku merasa bangga bahwa ia mendapat bantuan,
walaupun ia tergolong orang mampu. Belakangan ini, mereka yang mendapat
bantuan, diberi lebel tertentu, tetapi menurut informasi juga masih ada
sebagian yang tidak malu mendapat bantuan itu. Ini sebetulnya “mental tangan di
bawah” yang tidak dilegitimasi oleh agama Islam.
Mental yang normal, “kalangan penerima” mestinya malu, karena
bantuan itu atas dasar ketidakmampuannnya secara ekonomi. Namun sebagian sudah
punya mental tangan di bawah. Menerima yang terhormat dan tidak perlu malu dan
sebaliknya mungkin kebanggaan adalah atas dasar prestasi. Mendapat hadiah dari
berbagai kejuaraan, ini hal yang membanggakan. Mendapat beasiswa karena
prestasi akademik, ini menjadi kebanggaan, tetapi menerima, akibat dari
kelemahan, konsepnya adalah “tidak diharapkan”
Ada kisahnya terjadi di Medan, menjelang lebarang, panitia
zakat fitrah mendistribusikan kepada masyarakat yang telah didaftarkan sebagai
penerima. Begitu ingin diserahkan zakat fitrah ini kepada salah seorang yang
dinilai oleh panitia sebagai mustahaq, orang tersebut mengatakan, “Saya masih
mampu membayar zakat fitrah!”. Sikap
panitia tentu malu karena memperlakukannya sebagai orang yang tidak mampu,
sehingga harus diberikan zakat fitrah.
Kasus ini sangat terekam dalam ingatan dan bayangan orang
tersebut. Saya bangga mendengar komentar orang tersebut, sebab jika ia pun
dipersepsi orang yang berhak menerima zakat fitrah, ia menolak menerimanya
dengan alasan ia masih mampu berzakat fitrah, ini adalah potret dari `iffah. Orang
melihat dirinya lemah secara ekonomi, sementara ia menilai tidak. Ia tidak
ingin diberi, sebaliknya ia lebih tertarik untuk memberi. Namun baru kali itu
saya dengan yang menolak pemberian zakat fitrah. Mungkin masih banyak kasus
lain yang tidak kita ketahui. Kisah sebaliknya sering kita dengan ada orang
yang meminta dimasukkan dalam golongan ekonomi lemah, sehingga berhak menerima
bantuan.
Semoga bermanfaat.

About the Author

0 komentar: