SENANGNYA MEMBERI
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
اليد العليا خير من اليد السفبي "Tangan di atas lebih baik dan mulia dari tangan di bawah. Inilah teori "Etos Tangan di Atas" yang saya sebut dalam buku Filsafat Pendidikan Akhlak. Islam membangun etos memberi dan bukan etos menerima. Etos memberi secara materil ada dalam konsep zakat, infak, sodaqah, dan wakaf. Sementara etos menerima secara materil tidak ditemukan dalam al-Qur'an. Tidak ditemukan dalam al-Qur'an perintah menerima zakat, infak, sodaqah, dan wakaf.
Etos menerima justru adalah dalam konsep psikologis yang dihubungkan dengan pemberian Allah syukur, sabar dan qanaah. Apapun yang terjadi harus disyukuri, walaupun yang terjadi adalah musibah. Q.S. Ibrahim/14:7 menjelaskan, jika kita bersyukur, niscaya Allah akan menambahkan nikmatnya dan jika kita kufr, niscaya Allah memberi azab yang pedih.
Mensyukuri musibah memang tingkatan sabar orang `arif. Sesungguhnya mensyukuri pemberian Allah, baik itu tidak menyenangkan dalam pandangan kita dengan dalil bahwa Allah mustahil menginginkan yang terburuk untuk hambaNya yang inkar sekalipun, apalagi kepada hambaNya yang taat. Terhadap hambanya yang buruk, musibah itu, bisa jadi sebagai peringatan. Adapun bagi hambanya yang taat, boleh jadi ujian kenaikan tingkat yang bisa menghasilkan keberuntungan.
Ikhwanus Sofa menyebutkan bahwa dalam rasa sakit yang kita alami terdapat kasih sayang Allah agar kita tetap sehat. Bisa dibayangkan jika seseorang tertusuk pisau dan kemudian ia tidak merasa sakit, darah keluar terus menerus. Karena tidak merasa sakit, boleh jadi ia mengabaikannya, lama kelamaan iapun akan meninggal karena kehabisan darah. Dengan demikian kata Ikhwanus Sofa, rasa sakit itu diberikan oleh Alah agar manusia berobat dan pada gilirannya, ia tetap sehat.

About the Author

0 komentar: