SD PLUS TADIKA RAYA

SD PLUS TADIKA RAYA
MENCETAK GENERASI BERAKHLAK MULIA BERWAWASAN LUAS BERDASARKAN AL-QUR'AN
Latest Posts

13 Agustus 2020





 

Kalimat Bijak Dari Pencinta Filsafat Pendidikan Akhlak





 

10 Agustus 2020

 MISKIN HARTA KAYA SEMANGAT

DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE


Mungkin kita pernah mendengar, melihat, dan bahkan kenal dekat dengan orang yang tipenya "Miskin Harta Kaya Semangat". Kemismikinan tidak selamanya membuat orang patah semangat. Ada seorang Profesor di UIN Sunan Kali Djaga pada masa sekolah di MTs sebelum Shubuh di sudah jualan koran naik sepeda padinya ia harus sekolah naik sepeda juga. Karena kegigihannya dalam mencari rezeki yang halal akibat dari kemiskinan harta ditambah dengan kaya prestasi, sehingga ia kelak menjadi Dosen dan sampai mencapai gelar tertinggi, yaitu Profesor.

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ada juga seorang mahasiswa penjaga mesjid. Dengan tekun belajar dan menjaga tugas sebagai penjaga mesid. Pekerjaan itu dilakukan akibat dari kemiskinan harta, tetapi ia kaya semangat dan prestasi. Kelak ia menjadi dosen di almamaternya dan juga mencapai puncak prestasi di kampus sebagai Profesor.

Ada juga seorang mahasiswa akibat dari kemiskinan harta, maka ia harus menarik becak di luar tugas kuliah. Ia mendayung becak untuk mencari nafkah. Kelak orang tersebut sukses menjadi pejabat dan pernah menjabat di Kanwil Kemenag sebagai Kabid Mapenda. Akhirnya ia sekarang bukan saja kaya jabatan, juga kaya harta.

Ada juga orang pada mulanya adalah seoang petani. Bukan seperti petani di pulau Jawa pemilik sawah yang luas, tetapi yang kerja orang lain. Ini memang memiliki sawah, tapi tidak tergolong luas. Mereka bertani bersungguh-sungguh. Akibat dari kaya semangat itu, akhirnya miskin harta berubah  nasib menjadi kaya harta sebagai pengusaha muda.

Kisah singkat (lamhah) di atas adalah sebagian contoh dari kisah sukses banyak orang yang pada mulanya miskin harta, tetapi dengan kaya semangat, akhirnya mereka meraih kesuksesan dalam berbagai bidang, termasuk sukses menjadi orang yang kaya harta. Ini adalah pesan khusus bagi saudara-saudara yang merasa saat ini "miskin harta". Jangan sampai dengan kemiskinan, semangat menjadi lemah dan bahkan mati. Patah arang alias putus asa mengarungi perjuangan menuju sukses kosa kata yang tidak boleh terpikir, terdetik, dan terucap bagi mereka yang miskin harta. Lihatlah motivator, daya dorong untuk bersengat dari orang-orang yang di sekitarmu atau keluargamu, atau kisah yang bisa kamu baca dari orang-orang yang awalnya miskin harta, tumbuh menjadi orang sukses.

Jika terdetik, terpikir, dan teringat dengan kemiskinan bisa mengganjal semangat berjuang, cepatlah beristiadzah (mengucapkan أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : aku berlindung dari setan yang terkutuk). Tidak boleh kemiskinan menurunkan semangat berjuang. Untuk itulah kita harus berlindung dari bisikan setan yang mencoba mengingatkan kita bahwa miskin akan menjadi penghalang keberhasilan. Selanjutnya, cepatlah banyak berdzikir Allahu Akbar: Allah Maha Besar. Dengan usaha dan doa, kita harus yakin bahwa Allah akan membantu kita untuk keluar dari masalah. Buktinya banyak orang yang sukes padahal dulu mereka miskin. Tidak semua orang miskin yang sukses itu pintar, tapi yang jelas mereka sukes karena tekun, rajin juga dekat dengan Allah.

Untuk keluarga dari ketiadaaan, mati kita panggil Allah Yang Maha Kaya (al-ghani), untuk menutupi celah-celah kemiskinan, sehingga tidak menjadi penghambat dari perjuangan hidup. Kita panggil Allah Yang Maha Besar, yang bisa membuat kita berhasil mencapai cita-cita. Keyakinan bahwa Tuhan Maha Kuasa dan pasti Kuasa mengatasi semua masalah kita adalah hal yang perlu diperkuat oleh setiap manusia, termasuk bagi mereka yang merasa miskin harta. Untuk itulah, kita mencoba mendekati Yang Maha Kaya dengan berbagai kebaikan dengan mengikuti petunjukNya.

Semoga Bermanfaat.




MISKIN HARTA KAYA SEMANGAT

 MISKIN HARTA KAYA SEMANGAT

DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE


Mungkin kita pernah mendengar, melihat, dan bahkan kenal dekat dengan orang yang tipenya "Miskin Harta Kaya Semangat". Kemismikinan tidak selamanya membuat orang patah semangat. Ada seorang Profesor di UIN Sunan Kali Djaga pada masa sekolah di MTs sebelum Shubuh di sudah jualan koran naik sepeda padinya ia harus sekolah naik sepeda juga. Karena kegigihannya dalam mencari rezeki yang halal akibat dari kemiskinan harta ditambah dengan kaya prestasi, sehingga ia kelak menjadi Dosen dan sampai mencapai gelar tertinggi, yaitu Profesor.

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ada juga seorang mahasiswa penjaga mesjid. Dengan tekun belajar dan menjaga tugas sebagai penjaga mesid. Pekerjaan itu dilakukan akibat dari kemiskinan harta, tetapi ia kaya semangat dan prestasi. Kelak ia menjadi dosen di almamaternya dan juga mencapai puncak prestasi di kampus sebagai Profesor.

Ada juga seorang mahasiswa akibat dari kemiskinan harta, maka ia harus menarik becak di luar tugas kuliah. Ia mendayung becak untuk mencari nafkah. Kelak orang tersebut sukses menjadi pejabat dan pernah menjabat di Kanwil Kemenag sebagai Kabid Mapenda. Akhirnya ia sekarang bukan saja kaya jabatan, juga kaya harta.

Ada juga orang pada mulanya adalah seoang petani. Bukan seperti petani di pulau Jawa pemilik sawah yang luas, tetapi yang kerja orang lain. Ini memang memiliki sawah, tapi tidak tergolong luas. Mereka bertani bersungguh-sungguh. Akibat dari kaya semangat itu, akhirnya miskin harta berubah  nasib menjadi kaya harta sebagai pengusaha muda.

Kisah singkat (lamhah) di atas adalah sebagian contoh dari kisah sukses banyak orang yang pada mulanya miskin harta, tetapi dengan kaya semangat, akhirnya mereka meraih kesuksesan dalam berbagai bidang, termasuk sukses menjadi orang yang kaya harta. Ini adalah pesan khusus bagi saudara-saudara yang merasa saat ini "miskin harta". Jangan sampai dengan kemiskinan, semangat menjadi lemah dan bahkan mati. Patah arang alias putus asa mengarungi perjuangan menuju sukses kosa kata yang tidak boleh terpikir, terdetik, dan terucap bagi mereka yang miskin harta. Lihatlah motivator, daya dorong untuk bersengat dari orang-orang yang di sekitarmu atau keluargamu, atau kisah yang bisa kamu baca dari orang-orang yang awalnya miskin harta, tumbuh menjadi orang sukses.

Jika terdetik, terpikir, dan teringat dengan kemiskinan bisa mengganjal semangat berjuang, cepatlah beristiadzah (mengucapkan أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : aku berlindung dari setan yang terkutuk). Tidak boleh kemiskinan menurunkan semangat berjuang. Untuk itulah kita harus berlindung dari bisikan setan yang mencoba mengingatkan kita bahwa miskin akan menjadi penghalang keberhasilan. Selanjutnya, cepatlah banyak berdzikir Allahu Akbar: Allah Maha Besar. Dengan usaha dan doa, kita harus yakin bahwa Allah akan membantu kita untuk keluar dari masalah. Buktinya banyak orang yang sukes padahal dulu mereka miskin. Tidak semua orang miskin yang sukses itu pintar, tapi yang jelas mereka sukes karena tekun, rajin juga dekat dengan Allah.

Untuk keluarga dari ketiadaaan, mati kita panggil Allah Yang Maha Kaya (al-ghani), untuk menutupi celah-celah kemiskinan, sehingga tidak menjadi penghambat dari perjuangan hidup. Kita panggil Allah Yang Maha Besar, yang bisa membuat kita berhasil mencapai cita-cita. Keyakinan bahwa Tuhan Maha Kuasa dan pasti Kuasa mengatasi semua masalah kita adalah hal yang perlu diperkuat oleh setiap manusia, termasuk bagi mereka yang merasa miskin harta. Untuk itulah, kita mencoba mendekati Yang Maha Kaya dengan berbagai kebaikan dengan mengikuti petunjukNya.

Semoga Bermanfaat.




07 Agustus 2020


MENGENANG TAPI BUKAN KENANGAN
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE

Bisa jadi kita punya photo-photo dokumentasi yang menarik dilihat di kemudian hari. Photo di atas, bagi Thehaer Dalimunthe 30 tahun yang akan datang bisa saja menarik untuk kenganan di waktu kecil bersama kakaknya Qorinah Rahman Dalimunthe dan ibunya Habibah. Namun tempat itu bisa saja tidak menjadi kenangan karena tidak ada yang istimewa, selain menggambarkan bahwa dia pernah berkunjung ke Danau Siais. Photo itu bisa bicara tentang hal itu.

Berbeda sekali dengan photo pengantin, umumnya dikenang dan kenangan. Waktu dan tempat memiliki arti tersendiri. Ada kalanya photo kenangan orang ketika mengucapkan kata "indah" bagi pasangannya, sehingga benar-benar photo yang penuh arti.  Ada kalanya tempat dalam backround sebuah photo sangat berarti menjadi kenangan bagi seseorang. Terkadang waktu pun menjadi menjadi kenangan manis atau pahit bagi seseorang.

Contohnya, katakan X punya pengalaman putus cinta pada tanggal 17 Agustus. Sehingga ketika melihat photo-photo orang dengan momen 17 Agustus, ia mengenang dan tanggal itu menjadi kenangan. Bersyukurlah kita punya photo kenangan manis, sehingga mengenangnya bisa membawa kita balik ke masa lalu yang menyenangkan. 

Untuk itu, bagi siapa pun yang sedang punya masalah harmoni dalam hidupnya, maka disarankan mencari photo kenangan manis, agar harmoni kembali bersemi. Adakalanya melupakan menjadi nikmat. Terhadap kenganan pahit, perlu dilupakan, kecuali persoalan perjuangan. Jangan sudah menjadi orang kaya, melupakan dulu pernah miskin. Mengingat masa miskin, justru berguna untuk membangun sikap empati pada kemiskinan orang lain dan selanjutnya tertarik untuk membantunya. 

Pada waktu SD, saya pernah berjualan ES. Berjalan kesana kemari sambil mengucapkan "Es, Es". Jika saya melihat orang jualan dengan berjalan, datang saya ingin menyenangkan pembeli. Mengingat seperti ini tentu positif. Kenangan pahit difitnah orang perlu dilupakan karena bisa mengundang dendam.

Banyak sekali photo-photo kita hanya sebagai dokumentasi waktu dan tempat, tapi tidak menjadi kenangan. Mari bersama-sama menciptakan kenangan indah, sehingga di masa-masa yang akan datang masih terasa manis untuk dikenang.  

MENGENANG TAPI BUKAN KENANGAN


MENGENANG TAPI BUKAN KENANGAN
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE

Bisa jadi kita punya photo-photo dokumentasi yang menarik dilihat di kemudian hari. Photo di atas, bagi Thehaer Dalimunthe 30 tahun yang akan datang bisa saja menarik untuk kenganan di waktu kecil bersama kakaknya Qorinah Rahman Dalimunthe dan ibunya Habibah. Namun tempat itu bisa saja tidak menjadi kenangan karena tidak ada yang istimewa, selain menggambarkan bahwa dia pernah berkunjung ke Danau Siais. Photo itu bisa bicara tentang hal itu.

Berbeda sekali dengan photo pengantin, umumnya dikenang dan kenangan. Waktu dan tempat memiliki arti tersendiri. Ada kalanya photo kenangan orang ketika mengucapkan kata "indah" bagi pasangannya, sehingga benar-benar photo yang penuh arti.  Ada kalanya tempat dalam backround sebuah photo sangat berarti menjadi kenangan bagi seseorang. Terkadang waktu pun menjadi menjadi kenangan manis atau pahit bagi seseorang.

Contohnya, katakan X punya pengalaman putus cinta pada tanggal 17 Agustus. Sehingga ketika melihat photo-photo orang dengan momen 17 Agustus, ia mengenang dan tanggal itu menjadi kenangan. Bersyukurlah kita punya photo kenangan manis, sehingga mengenangnya bisa membawa kita balik ke masa lalu yang menyenangkan. 

Untuk itu, bagi siapa pun yang sedang punya masalah harmoni dalam hidupnya, maka disarankan mencari photo kenangan manis, agar harmoni kembali bersemi. Adakalanya melupakan menjadi nikmat. Terhadap kenganan pahit, perlu dilupakan, kecuali persoalan perjuangan. Jangan sudah menjadi orang kaya, melupakan dulu pernah miskin. Mengingat masa miskin, justru berguna untuk membangun sikap empati pada kemiskinan orang lain dan selanjutnya tertarik untuk membantunya. 

Pada waktu SD, saya pernah berjualan ES. Berjalan kesana kemari sambil mengucapkan "Es, Es". Jika saya melihat orang jualan dengan berjalan, datang saya ingin menyenangkan pembeli. Mengingat seperti ini tentu positif. Kenangan pahit difitnah orang perlu dilupakan karena bisa mengundang dendam.

Banyak sekali photo-photo kita hanya sebagai dokumentasi waktu dan tempat, tapi tidak menjadi kenangan. Mari bersama-sama menciptakan kenangan indah, sehingga di masa-masa yang akan datang masih terasa manis untuk dikenang.  

06 Agustus 2020
























KELAS 1 SD PLUS TADIKA RAYA TAHUN 2020

























AKSES JALAN MENUJU SIAIS PERLU DIPERBAIKI

Tempat Wisata harus mendapat perhatian dari pemerintah. Danau Siais jika datang dari Batang Toru masih banyak jalan berulubang, sehingga mobil pribadi tidak mudah melewatinya. Padahal, jika jalan bagus, objek wisata ini akan mengundang wisatawan lokal bahkan mancanegara karena ditambah dengan wisata ikan ajaib di Desa Raniate.

AKSES JALAN MENUJU SIAIS PERLU DIPERBAIKI


AKSES JALAN MENUJU SIAIS PERLU DIPERBAIKI

Tempat Wisata harus mendapat perhatian dari pemerintah. Danau Siais jika datang dari Batang Toru masih banyak jalan berulubang, sehingga mobil pribadi tidak mudah melewatinya. Padahal, jika jalan bagus, objek wisata ini akan mengundang wisatawan lokal bahkan mancanegara karena ditambah dengan wisata ikan ajaib di Desa Raniate.

05 Agustus 2020

Corona Mewabah Guru Jadi Sasaran
Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe

Sejak 2/3 bulan Maret 2020, pendidikan Indonesia merana. Juli 2020, diharapkan banyak orang sekolah kembali normal. Ternyata dengan jelas, SD dan TK sederajat dilarang melaksanakan pembelajaran normal (tatap muka). Eh ternyata merembet juga pada jenjang lainnya, yaitu SMP dan SMA sederajat, ikut juga tidak dibolehkan melaksanakan pembelajaran normal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian guru dihidupi dari profesi mengajar, walaupun jumlah nominalnya terkadang dirasakan kurang memadai sebagai ukuran profesi. Sebab profesi dalam definisinya haruslah menjadikan orangnya hidup sejartera dari pendapatan profesinya. 

Sekolah-sekolah swasta, tidak sedikit yang menggantungkan pembayaran jasa mengajar guru dari pembayaran SPP siswa. Di saat pembelajaran normal, tidak bisa dilakukan apalagi sistem daring, disana sini terdengar suara-suara "sumbang" alias tidak enak didengar oleh guru dan para pemerhati pendidikan. Apa suara sumbang yang terdengar, "enak kali sekolahnya, tidak masuk sekolah, tapi SPP dibayar penuh". Sekolah negeri pun kena "sembur" orang, "Enak ya jadi guru, makan gaji buta aja". 

Guru jadi sasaran, padahal sumber masalahnya bukan di pihak guru, tapi "corona". Corona mempengaruhi kebijakan nasional. Kebijakan nasional mempengaruhi kebijakan provinsi. Kebijakan provinsi mempengaruhi kebijakan Kabupaten Kota. Kebijakan Kabupaten Kota mempengaruhi kebijakan sekolah. Kebijakan sekolah mempengaruhi kebijakan kepala sekolah. Kepala sekolah mempengaruhi kebijakan guru dan seterusnya. Dalam bahasa filsafat, silsilah sebab (musabbib bukanlah guru). Jadi kurang baik guru menjadi sasaran.

Selain itu, perlu disadari secara mendalam, guru dalam pendidikan adalah pengganti dari orang tua dalam mendidik anak. Jika ada orang tua yang merendahkan guru, secara tidak langsung orang tua tersebut sedang merendahkan dirinya sendiri. Siapa yang merendahkan dirinya sendiri berarti dia tidak sadar bahwa ia sedang celaka هلك امرء من لم يعرف قدره, Artinya, "celakahlah orang yang tidak tau diri". 

Dalam rangka ingat mengingatkan, nasehat menasehati tentulah boleh kita mengkritik guru, tapi kita harus jaga agar perasaan mereka tidak terluka. Jika hati mereka terluka bagaimana mereka dengan senang mendidik anak-anak kita.Pendapat kita bisa saja benar, bisa juga salah. Ketika kita mengkritik tidak mustahil yang dikritik bisa benar dan yang mengkritik salah. Jika orang tua yang mengkritik itu benar dan guru yang dikirik salah pun, caranya perlu baik, tidak menyinggung perasaan guru. Itulah makna tafsir Q.S. Lukman/31:15. Jika guru benar-benar salah pun, kita harus bersikap baik kepada mereka. Kenapa karena posisi mereka menempati posisi orang tua dalam mendidik anak.

Melihat jasa guru yang tidak terbayar itulah Ali bin Abi Thalib menyebut, "من علمني حرفا قصرت له عبدا". Artiya, "Siapa yang mengajariku satu huruf, maka aku menjadi siap menjadi budaknya". Mungkin kalimat itu berlebihan, tapi sesungguhnya jika kita memahami secara mendalam jasa ikhlas guru tidak akan mampu kita bayar, walaupun kita harus menjadi budaknya. 

Perhatikanlah contoh teladan orang yang menghargai guru, Imam Abu Hanifah, ulama Fiqh dari Baghdad yang terkenal. Ada guru yang berhasil mengajari anaknya al-Fatihah, maka beliau hadiahkan uang sebenar 500 dirham. Jika harga emas sekarang Rp. 700.000/gram, maka 500 dirham sama nilainya dengan 1,25 Milyar. 

Untuk menjaga derajat guru, Pondok Modern Gontor, tidak menggunakan SPP dan jenis bayaran lainnya untuk menghidupi guru. Ada unit-unit usaha Pondok Modern Gontor menjadi sumber yang menghidupi guru-guru, sehingga orang tua, tidak berani berkata, "Saya yang membayar gaji guru itu!". Jika ini bisa dilakukan, niscaya cara yang baik untuk melindungi martabat guru.

Sebenarnya, orang tua yang merendahkan guru itu tidak banyak, masih lebih banyak lagi orang tua yang dapat menghargai guru. Tapi kritikan orang tua yang sedikit ini pun harus ditempatkan di posisi yang tepat, agar pendidikan itu menjadi baik. 

Guru-guru tingkatkan keikhlasanmu dalam mengajar dan mendidik. Ingat balasan dari Allah pasti ada dan mustahil Allah lupa dengan jasa baikmu. Jika kamu mengajar dan mendidik, tidak ikhlas, kamu benar-benar rugi sebab tantangan profesi guru itu sangat besar. Guru sering menjadi sasaran kritik. Janganlah berhenti belajar untuk membuat anak-anak berilmu. Jika ada kritikan, anggaplah ini cobaan dalam berjuang. 

SEMOGA CORONA CEPAT PULANG KE KAMPUNGNYA DAN PEMERINTAH HARUS LEBIH PERDULI DENGAN PENDIDIKAN ANAK BANGSA. MARI MENJAGA DIRI UNTUK MEMUTUS MATA RANTAI PENYEBARAN VIRUS CORONA INI, SEHINGGA DALAM WAKTU DEKAT KITA BISA SEKOLAH NORMAL BUKAN NEW NORMAL.AMIN.

Corona Mewabah Guru Jadi Sasaran

Corona Mewabah Guru Jadi Sasaran
Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe

Sejak 2/3 bulan Maret 2020, pendidikan Indonesia merana. Juli 2020, diharapkan banyak orang sekolah kembali normal. Ternyata dengan jelas, SD dan TK sederajat dilarang melaksanakan pembelajaran normal (tatap muka). Eh ternyata merembet juga pada jenjang lainnya, yaitu SMP dan SMA sederajat, ikut juga tidak dibolehkan melaksanakan pembelajaran normal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian guru dihidupi dari profesi mengajar, walaupun jumlah nominalnya terkadang dirasakan kurang memadai sebagai ukuran profesi. Sebab profesi dalam definisinya haruslah menjadikan orangnya hidup sejartera dari pendapatan profesinya. 

Sekolah-sekolah swasta, tidak sedikit yang menggantungkan pembayaran jasa mengajar guru dari pembayaran SPP siswa. Di saat pembelajaran normal, tidak bisa dilakukan apalagi sistem daring, disana sini terdengar suara-suara "sumbang" alias tidak enak didengar oleh guru dan para pemerhati pendidikan. Apa suara sumbang yang terdengar, "enak kali sekolahnya, tidak masuk sekolah, tapi SPP dibayar penuh". Sekolah negeri pun kena "sembur" orang, "Enak ya jadi guru, makan gaji buta aja". 

Guru jadi sasaran, padahal sumber masalahnya bukan di pihak guru, tapi "corona". Corona mempengaruhi kebijakan nasional. Kebijakan nasional mempengaruhi kebijakan provinsi. Kebijakan provinsi mempengaruhi kebijakan Kabupaten Kota. Kebijakan Kabupaten Kota mempengaruhi kebijakan sekolah. Kebijakan sekolah mempengaruhi kebijakan kepala sekolah. Kepala sekolah mempengaruhi kebijakan guru dan seterusnya. Dalam bahasa filsafat, silsilah sebab (musabbib bukanlah guru). Jadi kurang baik guru menjadi sasaran.

Selain itu, perlu disadari secara mendalam, guru dalam pendidikan adalah pengganti dari orang tua dalam mendidik anak. Jika ada orang tua yang merendahkan guru, secara tidak langsung orang tua tersebut sedang merendahkan dirinya sendiri. Siapa yang merendahkan dirinya sendiri berarti dia tidak sadar bahwa ia sedang celaka هلك امرء من لم يعرف قدره, Artinya, "celakahlah orang yang tidak tau diri". 

Dalam rangka ingat mengingatkan, nasehat menasehati tentulah boleh kita mengkritik guru, tapi kita harus jaga agar perasaan mereka tidak terluka. Jika hati mereka terluka bagaimana mereka dengan senang mendidik anak-anak kita.Pendapat kita bisa saja benar, bisa juga salah. Ketika kita mengkritik tidak mustahil yang dikritik bisa benar dan yang mengkritik salah. Jika orang tua yang mengkritik itu benar dan guru yang dikirik salah pun, caranya perlu baik, tidak menyinggung perasaan guru. Itulah makna tafsir Q.S. Lukman/31:15. Jika guru benar-benar salah pun, kita harus bersikap baik kepada mereka. Kenapa karena posisi mereka menempati posisi orang tua dalam mendidik anak.

Melihat jasa guru yang tidak terbayar itulah Ali bin Abi Thalib menyebut, "من علمني حرفا قصرت له عبدا". Artiya, "Siapa yang mengajariku satu huruf, maka aku menjadi siap menjadi budaknya". Mungkin kalimat itu berlebihan, tapi sesungguhnya jika kita memahami secara mendalam jasa ikhlas guru tidak akan mampu kita bayar, walaupun kita harus menjadi budaknya. 

Perhatikanlah contoh teladan orang yang menghargai guru, Imam Abu Hanifah, ulama Fiqh dari Baghdad yang terkenal. Ada guru yang berhasil mengajari anaknya al-Fatihah, maka beliau hadiahkan uang sebenar 500 dirham. Jika harga emas sekarang Rp. 700.000/gram, maka 500 dirham sama nilainya dengan 1,25 Milyar. 

Untuk menjaga derajat guru, Pondok Modern Gontor, tidak menggunakan SPP dan jenis bayaran lainnya untuk menghidupi guru. Ada unit-unit usaha Pondok Modern Gontor menjadi sumber yang menghidupi guru-guru, sehingga orang tua, tidak berani berkata, "Saya yang membayar gaji guru itu!". Jika ini bisa dilakukan, niscaya cara yang baik untuk melindungi martabat guru.

Sebenarnya, orang tua yang merendahkan guru itu tidak banyak, masih lebih banyak lagi orang tua yang dapat menghargai guru. Tapi kritikan orang tua yang sedikit ini pun harus ditempatkan di posisi yang tepat, agar pendidikan itu menjadi baik. 

Guru-guru tingkatkan keikhlasanmu dalam mengajar dan mendidik. Ingat balasan dari Allah pasti ada dan mustahil Allah lupa dengan jasa baikmu. Jika kamu mengajar dan mendidik, tidak ikhlas, kamu benar-benar rugi sebab tantangan profesi guru itu sangat besar. Guru sering menjadi sasaran kritik. Janganlah berhenti belajar untuk membuat anak-anak berilmu. Jika ada kritikan, anggaplah ini cobaan dalam berjuang. 

SEMOGA CORONA CEPAT PULANG KE KAMPUNGNYA DAN PEMERINTAH HARUS LEBIH PERDULI DENGAN PENDIDIKAN ANAK BANGSA. MARI MENJAGA DIRI UNTUK MEMUTUS MATA RANTAI PENYEBARAN VIRUS CORONA INI, SEHINGGA DALAM WAKTU DEKAT KITA BISA SEKOLAH NORMAL BUKAN NEW NORMAL.AMIN.

04 Agustus 2020


TAMAN SARASI SIPIROK

Berwisata untuk membahagiakan hati bagian dari iman. Jika manusia bisa membangun kebahagian apalagi Tuhan Yang Menciptakan manusia pastilah sangat mampu menanam kebahagiaan juga menumbuhkembangkannya dalam hati manusia. Semoga dengan berwisata ke Taman Sarasi Sipirok Guru-Guru Tadika Raya School bisa lebih berbahagia menghadapi belajar Luring.



TAMAN SARASI SIPIROK


TAMAN SARASI SIPIROK

Berwisata untuk membahagiakan hati bagian dari iman. Jika manusia bisa membangun kebahagian apalagi Tuhan Yang Menciptakan manusia pastilah sangat mampu menanam kebahagiaan juga menumbuhkembangkannya dalam hati manusia. Semoga dengan berwisata ke Taman Sarasi Sipirok Guru-Guru Tadika Raya School bisa lebih berbahagia menghadapi belajar Luring.



03 Agustus 2020

TAFAKKUR `ALAM DI DANAU SIAIS

Ada ungkapan Kyai "الراحة في الجنة و الراحة في تبادل العمل: Tempat Istirahat itu di Surga dan Istirahat adalah pergantian aktivitas". TRS dua minggu masuk belajar secara Luring (luar jaringan) dimana guru datang ke rumah bagaikan private, kemudian datang Puasa Arabah dan Lebaran Haji. Sejenak luring jeda. Untuk mengisi istirahat itulah Guru TRS serta keluarga mengganti aktivitasnya dengan berwisata ilmiah (Rihalah Ilmiah: Bukan Jalan-Jalan Biasa" untuk tafakkur di Danau Siais Tapanuli Selatan. Ternyata danau ini indah. 

Di Sumatera Utara, saya kira ini perlu dipromosikan. Danau Siais ini adalah muara dari Sungai Batang Toru (Sungai Batang Toru berakhir di Danau Siais). Jika waktu kecil, saya di Gunung Tua dengan teman-teman biasa membawa ban dalam mobil yang telah dipompa berjalan ke Hulu Sungai Batang Pane, Sibagasi. Sambil "marsiambur" di Sipalanduk (Sibagasi), pulangnya "Marundan" dengan manaiki Ban Dalam Mobil terus hanyut sampai di Pasar Gunung Tua. Aktivitas ini sangat menyenangkan dan terkenang dalam benak saya. Dari Sipalanduk marundan ke Pasar Gunung Tua, kemungkinan ada dua jam. 

Begitu juga juga kesan pikir saya, jika ada orang yang punya nyali ingin berkunjung ke Danau Siais dari Aek Garoga Tapanuli Utara, bisa marundan seperti arung jeram, maka akan sampai ke Sungai Siais. Dari Danau Siais ini akan bermuara ke Laut di Natal.

TAFAKKUR ALAM DI DANAU SIAIS

TAFAKKUR `ALAM DI DANAU SIAIS

Ada ungkapan Kyai "الراحة في الجنة و الراحة في تبادل العمل: Tempat Istirahat itu di Surga dan Istirahat adalah pergantian aktivitas". TRS dua minggu masuk belajar secara Luring (luar jaringan) dimana guru datang ke rumah bagaikan private, kemudian datang Puasa Arabah dan Lebaran Haji. Sejenak luring jeda. Untuk mengisi istirahat itulah Guru TRS serta keluarga mengganti aktivitasnya dengan berwisata ilmiah (Rihalah Ilmiah: Bukan Jalan-Jalan Biasa" untuk tafakkur di Danau Siais Tapanuli Selatan. Ternyata danau ini indah. 

Di Sumatera Utara, saya kira ini perlu dipromosikan. Danau Siais ini adalah muara dari Sungai Batang Toru (Sungai Batang Toru berakhir di Danau Siais). Jika waktu kecil, saya di Gunung Tua dengan teman-teman biasa membawa ban dalam mobil yang telah dipompa berjalan ke Hulu Sungai Batang Pane, Sibagasi. Sambil "marsiambur" di Sipalanduk (Sibagasi), pulangnya "Marundan" dengan manaiki Ban Dalam Mobil terus hanyut sampai di Pasar Gunung Tua. Aktivitas ini sangat menyenangkan dan terkenang dalam benak saya. Dari Sipalanduk marundan ke Pasar Gunung Tua, kemungkinan ada dua jam. 

Begitu juga juga kesan pikir saya, jika ada orang yang punya nyali ingin berkunjung ke Danau Siais dari Aek Garoga Tapanuli Utara, bisa marundan seperti arung jeram, maka akan sampai ke Sungai Siais. Dari Danau Siais ini akan bermuara ke Laut di Natal.

IKAN SUNGAI RANIATE BERSAHABAT DENGAN MANUSIA


Melihat ikat di kolam atau ditambak banyak, itu biasa karena memang dibudidayakan, tapi kalau melihat ikan di sungai banyak dan tidak takut ditangkap manusia itu jarang kita lihat. Ikan Merah di Sungai Raniate Kecamatan Sangkunur Tapanuli Selatan sejak puluhan tahun diketahui "aneh bin ajaib". Ikan itu tidak ada yang menangkapnya, padahal jumlahnya banyak sekali di sepanjang sungai Desa Raniate. Menurut penuturan warga sekitar, ikan itu tidak mau pindah dari sungai itu ke desa lain. Di desa itu, ikan tersebut merasa nyaman hidup karena tidak akan ditangkap oleh manusia. Tempat itu juga menjadi wisata bagi banyak orang dari luar daerah. 

Sabtu, 1 Agustus 2020, Keluarga TRS berkesempatan berwisata ke Raniate. Ikan-ikan itu makan layaknya manusia. Di beri kerupuk, kerupuk dimakan. Di beri Indomie, indomie pun di makan. Menurut Guide lokal, jika diberi daging, daging pun dimakan. Ikan Merah itu sama sekali tidak terlihat takut ditangkap. Kenyataan ini mengingatkan kita pada kisah Yahudi yang menghormati hari Sabtu. Pada hari Sabtu, orang Yahudi dahulu dilarang menangkap ikan-ikan di laut, sehingga pada hari itu, banyak ikan-ikan meminggir di tepi laut atau pantai. Ikan itu terlihat banyak, karena pada hari itu, diharamkan untuk menangkap ikan.

Ikan di Raniati bukan saja dilarang ditangkap pada hari Sabtu, ia dilarang ditangkap sepanjang waktu. Jika ada yang menangkap ikan-ikan itu dan kemudian dimakan, maka orang yang makan ikan itu akan mati. Itulah keyakinan banyak orang di Desa Raniate, sehingga urusan nyawa itulah membuat orang tidak berani coba-coba. Dulu pernah ada orang yang mencoba menangkap dan memakannya. Kata mereka orangnya mati. Apakah ia mati akibat dari makan ikan, atau memang akibat lain atau memang karena sudah datang ajalnya Allahu A`lam. Yang jelas diyakini banyak orang bahwa ikan itu haram ditangkap dan dimakan.

Menurut penuturan warga setempat bermarga Sitompul, pada mulanya ikan-ikan itu dilepas oleh seorang Kyai dari Natal. Gunanya, agaar sungai air sungai Raniate dekat Mesjid bersih, sehingga bisa dijadikan air thaharah dan juga mandi.

Ikan Merah di Sungai Raniate itu ada masanya mati seperti keracunan, bisa mencapai 6 ton. Jika terjadi demikian, maka ikan itu akan dijual. Kemungkinan hasilnya untuk desa setempat. Kemudian ikan itu kembali banyak. Begitu caranya ikan itu bisa dimanfaatkan. Ia mati seperti keracunan dalam jumlah banyak. Yang sudah mati dimakan, warga tidak khawatir mengkonsumsinya karena bukan sengaja ditangkat atau diracun. Boleh jadi itu hikmahnya, sehingga ikan bisa dijual sampai besar. Sungai itulah yang dikenal orang dengan istilah "lubuk larangan". Dilarang memancing ikan atau mengambil ikan. Di daerah-daerah lain, semakin banyak istilah lubuk larangan, tetapi dalam waktu tertentu, ikan bisa dipanen bersama. Lain halnya dengan lubuk larangan di Sungai Raniate, ikannya tidak boleh dipanen, kecuali karena mati. Jika mati pun ternyata dalam jumlah yang sangat besar. Bisa sampai 6 ton. Banyangkan  bagaimana banyaknya di Sungai Raniate Ikan Merah itu jika tidak mati, bisa saja sepanjang sungai itu semua ikan saja, sehingga masyarakat tidak bisa memanfaatkan sungainya untuk mandi. 

IKAN SUNGAI RANIATE BERSAHABAT DENGAN MANUSIA

IKAN SUNGAI RANIATE BERSAHABAT DENGAN MANUSIA


Melihat ikat di kolam atau ditambak banyak, itu biasa karena memang dibudidayakan, tapi kalau melihat ikan di sungai banyak dan tidak takut ditangkap manusia itu jarang kita lihat. Ikan Merah di Sungai Raniate Kecamatan Sangkunur Tapanuli Selatan sejak puluhan tahun diketahui "aneh bin ajaib". Ikan itu tidak ada yang menangkapnya, padahal jumlahnya banyak sekali di sepanjang sungai Desa Raniate. Menurut penuturan warga sekitar, ikan itu tidak mau pindah dari sungai itu ke desa lain. Di desa itu, ikan tersebut merasa nyaman hidup karena tidak akan ditangkap oleh manusia. Tempat itu juga menjadi wisata bagi banyak orang dari luar daerah. 

Sabtu, 1 Agustus 2020, Keluarga TRS berkesempatan berwisata ke Raniate. Ikan-ikan itu makan layaknya manusia. Di beri kerupuk, kerupuk dimakan. Di beri Indomie, indomie pun di makan. Menurut Guide lokal, jika diberi daging, daging pun dimakan. Ikan Merah itu sama sekali tidak terlihat takut ditangkap. Kenyataan ini mengingatkan kita pada kisah Yahudi yang menghormati hari Sabtu. Pada hari Sabtu, orang Yahudi dahulu dilarang menangkap ikan-ikan di laut, sehingga pada hari itu, banyak ikan-ikan meminggir di tepi laut atau pantai. Ikan itu terlihat banyak, karena pada hari itu, diharamkan untuk menangkap ikan.

Ikan di Raniati bukan saja dilarang ditangkap pada hari Sabtu, ia dilarang ditangkap sepanjang waktu. Jika ada yang menangkap ikan-ikan itu dan kemudian dimakan, maka orang yang makan ikan itu akan mati. Itulah keyakinan banyak orang di Desa Raniate, sehingga urusan nyawa itulah membuat orang tidak berani coba-coba. Dulu pernah ada orang yang mencoba menangkap dan memakannya. Kata mereka orangnya mati. Apakah ia mati akibat dari makan ikan, atau memang akibat lain atau memang karena sudah datang ajalnya Allahu A`lam. Yang jelas diyakini banyak orang bahwa ikan itu haram ditangkap dan dimakan.

Menurut penuturan warga setempat bermarga Sitompul, pada mulanya ikan-ikan itu dilepas oleh seorang Kyai dari Natal. Gunanya, agaar sungai air sungai Raniate dekat Mesjid bersih, sehingga bisa dijadikan air thaharah dan juga mandi.

Ikan Merah di Sungai Raniate itu ada masanya mati seperti keracunan, bisa mencapai 6 ton. Jika terjadi demikian, maka ikan itu akan dijual. Kemungkinan hasilnya untuk desa setempat. Kemudian ikan itu kembali banyak. Begitu caranya ikan itu bisa dimanfaatkan. Ia mati seperti keracunan dalam jumlah banyak. Yang sudah mati dimakan, warga tidak khawatir mengkonsumsinya karena bukan sengaja ditangkat atau diracun. Boleh jadi itu hikmahnya, sehingga ikan bisa dijual sampai besar. Sungai itulah yang dikenal orang dengan istilah "lubuk larangan". Dilarang memancing ikan atau mengambil ikan. Di daerah-daerah lain, semakin banyak istilah lubuk larangan, tetapi dalam waktu tertentu, ikan bisa dipanen bersama. Lain halnya dengan lubuk larangan di Sungai Raniate, ikannya tidak boleh dipanen, kecuali karena mati. Jika mati pun ternyata dalam jumlah yang sangat besar. Bisa sampai 6 ton. Banyangkan  bagaimana banyaknya di Sungai Raniate Ikan Merah itu jika tidak mati, bisa saja sepanjang sungai itu semua ikan saja, sehingga masyarakat tidak bisa memanfaatkan sungainya untuk mandi. 

30 Juli 2020




Kalau berniat pergi naik haji, mulailah membuka tabungan haji, tidak harus menunggu ada duinya Rp.25.500.000, toh ternyata membuka tabungan haji bisa dengan Rp. 100.000. Dengan tabungan Rp. 100.000, kita sedang berdoa, agar bisa ditambahi sampai Rp. 25.500.000. Jika tabungan itu sampai pada jumlah itu, maka bank akan memberi kita porsi naik haji. Jangan persoalankan berapa lama baru sampai ke jumlah itu, yang jelas kamu berusaha dan berdoa, urusan rezeki, itu sudah urusan Allah. Begitulah gambaran Pohon Langsat yang ditebang dalam gambar di atas, mau bangun Ruang Kelas Baru di lahan itu, ya setidaknya dengan modal Rp. 300.000, dua pohon langsat itu bisa ditebang. Kalau sudah ditebang, akan diusahakan bisa membangun pondasinya. Mau kapan dibangun pondasinya hanya usaha dan doa saja dari kami, sementara kapan mulai dibangun, mudah2an kalau ada rezeki beli kerikil, akan dibeli kerikilnya. Ada lagi rezeki dibeli pasrinya. Ada lagi rezeki dibeli besinya. Ada lagi rezeki dibeli semennya dan seterusnya. Itu kami serahkan kepada Allah. Kami memohon bantuan doa kepada kaum Muslimin dan muslimat agar segera terwujud cita-cita itu, toh kalau Sauadara/i mendoakannya, itu berguna juga untuk mendoakannya. Itulah yang kami pahami dari  Q.S. al-Israh/17:7.
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيرًا
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu 
sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi 
dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi 
(kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) 
untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam 
mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali 
pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang 
mereka kuasai. 
Jika mendoakan orang lain itu,  berguna untuk kita dan berguna juga untuk orang lain, maka mendoakan pembangunan Ruang Kelas Baru SD Plus Tadika Raya tentu menjadi pilihan kita bersama. Ikhlaskan ikut berdoa. Kami juga mohon ada yang menderma ilmu "bagaimana cara menjemput rezeki Allah itu", sehingga cita-cita itu terwujud. Wa lihadzi al-niyah al-Fatihah.
Syukran


TADIKA RAYA SCHOOL (TRS) BERDOA




Kalau berniat pergi naik haji, mulailah membuka tabungan haji, tidak harus menunggu ada duinya Rp.25.500.000, toh ternyata membuka tabungan haji bisa dengan Rp. 100.000. Dengan tabungan Rp. 100.000, kita sedang berdoa, agar bisa ditambahi sampai Rp. 25.500.000. Jika tabungan itu sampai pada jumlah itu, maka bank akan memberi kita porsi naik haji. Jangan persoalankan berapa lama baru sampai ke jumlah itu, yang jelas kamu berusaha dan berdoa, urusan rezeki, itu sudah urusan Allah. Begitulah gambaran Pohon Langsat yang ditebang dalam gambar di atas, mau bangun Ruang Kelas Baru di lahan itu, ya setidaknya dengan modal Rp. 300.000, dua pohon langsat itu bisa ditebang. Kalau sudah ditebang, akan diusahakan bisa membangun pondasinya. Mau kapan dibangun pondasinya hanya usaha dan doa saja dari kami, sementara kapan mulai dibangun, mudah2an kalau ada rezeki beli kerikil, akan dibeli kerikilnya. Ada lagi rezeki dibeli pasrinya. Ada lagi rezeki dibeli besinya. Ada lagi rezeki dibeli semennya dan seterusnya. Itu kami serahkan kepada Allah. Kami memohon bantuan doa kepada kaum Muslimin dan muslimat agar segera terwujud cita-cita itu, toh kalau Sauadara/i mendoakannya, itu berguna juga untuk mendoakannya. Itulah yang kami pahami dari  Q.S. al-Israh/17:7.
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيرًا
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu 
sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi 
dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi 
(kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) 
untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam 
mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali 
pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang 
mereka kuasai. 
Jika mendoakan orang lain itu,  berguna untuk kita dan berguna juga untuk orang lain, maka mendoakan pembangunan Ruang Kelas Baru SD Plus Tadika Raya tentu menjadi pilihan kita bersama. Ikhlaskan ikut berdoa. Kami juga mohon ada yang menderma ilmu "bagaimana cara menjemput rezeki Allah itu", sehingga cita-cita itu terwujud. Wa lihadzi al-niyah al-Fatihah.
Syukran



SENANGNYA MEMBERI 2

DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE

 

Di Zaman Presiden SBY, ada Bantuan Langsung Tunai untuk orang-orang tidak mampu. Di sana sini banyak informasi bahwa yang mendapat bantuan tidak semua tepat sasaran, bahkan orang-orang yang mampu minta diikutkan mendapat bantuan, dimasukkan pada kelompok orang yang tidak mampu.

Begitu juga disetiap ada bantuan bagi orang yang tidak mampu, sebagian kelompok yang mampu berusaha ikut menikmati bantuan itu. Terkadang dengan bangga juga ada yang mengaku merasa bangga bahwa ia mendapat bantuan, walaupun ia tergolong orang mampu. Belakangan ini, mereka yang mendapat bantuan, diberi lebel tertentu, tetapi menurut informasi juga masih ada sebagian yang tidak malu mendapat bantuan itu. Ini sebetulnya “mental tangan di bawah” yang tidak dilegitimasi oleh agama Islam.

Mental yang normal, “kalangan penerima” mestinya malu, karena bantuan itu atas dasar ketidakmampuannnya secara ekonomi. Namun sebagian sudah punya mental tangan di bawah. Menerima yang terhormat dan tidak perlu malu dan sebaliknya mungkin kebanggaan adalah atas dasar prestasi. Mendapat hadiah dari berbagai kejuaraan, ini hal yang membanggakan. Mendapat beasiswa karena prestasi akademik, ini menjadi kebanggaan, tetapi menerima, akibat dari kelemahan, konsepnya adalah “tidak diharapkan”

Ada kisahnya terjadi di Medan, menjelang lebarang, panitia zakat fitrah mendistribusikan kepada masyarakat yang telah didaftarkan sebagai penerima. Begitu ingin diserahkan zakat fitrah ini kepada salah seorang yang dinilai oleh panitia sebagai mustahaq, orang tersebut mengatakan, “Saya masih mampu membayar zakat fitrah!”.  Sikap panitia tentu malu karena memperlakukannya sebagai orang yang tidak mampu, sehingga harus diberikan zakat fitrah.

Kasus ini sangat terekam dalam ingatan dan bayangan orang tersebut. Saya bangga mendengar komentar orang tersebut, sebab jika ia pun dipersepsi orang yang berhak menerima zakat fitrah, ia menolak menerimanya dengan alasan ia masih mampu berzakat fitrah, ini adalah potret dari `iffah. Orang melihat dirinya lemah secara ekonomi, sementara ia menilai tidak. Ia tidak ingin diberi, sebaliknya ia lebih tertarik untuk memberi. Namun baru kali itu saya dengan yang menolak pemberian zakat fitrah. Mungkin masih banyak kasus lain yang tidak kita ketahui. Kisah sebaliknya sering kita dengan ada orang yang meminta dimasukkan dalam golongan ekonomi lemah, sehingga berhak menerima bantuan.

Semoga bermanfaat.

SENANGNYA BERBUAT BAIK 2


SENANGNYA MEMBERI 2

DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE

 

Di Zaman Presiden SBY, ada Bantuan Langsung Tunai untuk orang-orang tidak mampu. Di sana sini banyak informasi bahwa yang mendapat bantuan tidak semua tepat sasaran, bahkan orang-orang yang mampu minta diikutkan mendapat bantuan, dimasukkan pada kelompok orang yang tidak mampu.

Begitu juga disetiap ada bantuan bagi orang yang tidak mampu, sebagian kelompok yang mampu berusaha ikut menikmati bantuan itu. Terkadang dengan bangga juga ada yang mengaku merasa bangga bahwa ia mendapat bantuan, walaupun ia tergolong orang mampu. Belakangan ini, mereka yang mendapat bantuan, diberi lebel tertentu, tetapi menurut informasi juga masih ada sebagian yang tidak malu mendapat bantuan itu. Ini sebetulnya “mental tangan di bawah” yang tidak dilegitimasi oleh agama Islam.

Mental yang normal, “kalangan penerima” mestinya malu, karena bantuan itu atas dasar ketidakmampuannnya secara ekonomi. Namun sebagian sudah punya mental tangan di bawah. Menerima yang terhormat dan tidak perlu malu dan sebaliknya mungkin kebanggaan adalah atas dasar prestasi. Mendapat hadiah dari berbagai kejuaraan, ini hal yang membanggakan. Mendapat beasiswa karena prestasi akademik, ini menjadi kebanggaan, tetapi menerima, akibat dari kelemahan, konsepnya adalah “tidak diharapkan”

Ada kisahnya terjadi di Medan, menjelang lebarang, panitia zakat fitrah mendistribusikan kepada masyarakat yang telah didaftarkan sebagai penerima. Begitu ingin diserahkan zakat fitrah ini kepada salah seorang yang dinilai oleh panitia sebagai mustahaq, orang tersebut mengatakan, “Saya masih mampu membayar zakat fitrah!”.  Sikap panitia tentu malu karena memperlakukannya sebagai orang yang tidak mampu, sehingga harus diberikan zakat fitrah.

Kasus ini sangat terekam dalam ingatan dan bayangan orang tersebut. Saya bangga mendengar komentar orang tersebut, sebab jika ia pun dipersepsi orang yang berhak menerima zakat fitrah, ia menolak menerimanya dengan alasan ia masih mampu berzakat fitrah, ini adalah potret dari `iffah. Orang melihat dirinya lemah secara ekonomi, sementara ia menilai tidak. Ia tidak ingin diberi, sebaliknya ia lebih tertarik untuk memberi. Namun baru kali itu saya dengan yang menolak pemberian zakat fitrah. Mungkin masih banyak kasus lain yang tidak kita ketahui. Kisah sebaliknya sering kita dengan ada orang yang meminta dimasukkan dalam golongan ekonomi lemah, sehingga berhak menerima bantuan.

Semoga bermanfaat.

26 Juli 2020


SENANGNYA MEMBERI 
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE

اليد العليا خير من اليد السفبي "Tangan di atas lebih baik dan mulia dari tangan di bawah. Inilah teori "Etos Tangan di Atas" yang saya sebut dalam buku Filsafat Pendidikan Akhlak. Islam membangun etos memberi dan bukan etos menerima. Etos memberi secara materil ada dalam konsep zakat, infak, sodaqah, dan wakaf. Sementara etos menerima secara materil tidak ditemukan dalam al-Qur'an. Tidak ditemukan dalam al-Qur'an perintah menerima zakat, infak, sodaqah, dan wakaf.

Etos menerima justru adalah dalam konsep psikologis yang dihubungkan dengan pemberian Allah syukur, sabar dan qanaah. Apapun yang terjadi harus disyukuri, walaupun yang terjadi adalah musibah. Q.S. Ibrahim/14:7 menjelaskan, jika kita bersyukur, niscaya Allah akan menambahkan nikmatnya dan jika kita kufr, niscaya Allah memberi azab yang pedih. 

Mensyukuri musibah memang tingkatan sabar orang `arif. Sesungguhnya mensyukuri pemberian Allah, baik itu tidak menyenangkan dalam pandangan kita dengan dalil bahwa Allah mustahil menginginkan yang terburuk untuk hambaNya yang inkar sekalipun, apalagi kepada hambaNya yang taat. Terhadap hambanya yang buruk, musibah itu, bisa jadi sebagai peringatan. Adapun bagi hambanya yang taat, boleh  jadi ujian kenaikan tingkat yang bisa menghasilkan keberuntungan. 

Ikhwanus Sofa menyebutkan bahwa dalam rasa sakit yang kita alami terdapat kasih sayang Allah agar kita tetap sehat. Bisa dibayangkan jika seseorang tertusuk pisau dan kemudian ia tidak merasa sakit, darah keluar terus menerus. Karena tidak merasa sakit, boleh jadi ia mengabaikannya, lama kelamaan iapun akan meninggal karena kehabisan darah. Dengan demikian kata Ikhwanus Sofa, rasa sakit itu diberikan oleh Alah agar manusia berobat dan pada gilirannya, ia tetap sehat.

SENANGNYA MEMBERI 1


SENANGNYA MEMBERI 
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE

اليد العليا خير من اليد السفبي "Tangan di atas lebih baik dan mulia dari tangan di bawah. Inilah teori "Etos Tangan di Atas" yang saya sebut dalam buku Filsafat Pendidikan Akhlak. Islam membangun etos memberi dan bukan etos menerima. Etos memberi secara materil ada dalam konsep zakat, infak, sodaqah, dan wakaf. Sementara etos menerima secara materil tidak ditemukan dalam al-Qur'an. Tidak ditemukan dalam al-Qur'an perintah menerima zakat, infak, sodaqah, dan wakaf.

Etos menerima justru adalah dalam konsep psikologis yang dihubungkan dengan pemberian Allah syukur, sabar dan qanaah. Apapun yang terjadi harus disyukuri, walaupun yang terjadi adalah musibah. Q.S. Ibrahim/14:7 menjelaskan, jika kita bersyukur, niscaya Allah akan menambahkan nikmatnya dan jika kita kufr, niscaya Allah memberi azab yang pedih. 

Mensyukuri musibah memang tingkatan sabar orang `arif. Sesungguhnya mensyukuri pemberian Allah, baik itu tidak menyenangkan dalam pandangan kita dengan dalil bahwa Allah mustahil menginginkan yang terburuk untuk hambaNya yang inkar sekalipun, apalagi kepada hambaNya yang taat. Terhadap hambanya yang buruk, musibah itu, bisa jadi sebagai peringatan. Adapun bagi hambanya yang taat, boleh  jadi ujian kenaikan tingkat yang bisa menghasilkan keberuntungan. 

Ikhwanus Sofa menyebutkan bahwa dalam rasa sakit yang kita alami terdapat kasih sayang Allah agar kita tetap sehat. Bisa dibayangkan jika seseorang tertusuk pisau dan kemudian ia tidak merasa sakit, darah keluar terus menerus. Karena tidak merasa sakit, boleh jadi ia mengabaikannya, lama kelamaan iapun akan meninggal karena kehabisan darah. Dengan demikian kata Ikhwanus Sofa, rasa sakit itu diberikan oleh Alah agar manusia berobat dan pada gilirannya, ia tetap sehat.

23 Juli 2020


NIKMAT BERBUAT BAIK

DR. Sehat Sultoni Dalimunthe

 

Al-Qur’an menyebut 4 istilah untuk kebaikan. Pertama adalah al-khair, itu adalah kebaikan universal, tidak mengenal batas-batas geografis, suku, etnis, ekonomi dsb.  Contoh, bersikap jujur adalah sebuah kebaikan universal (al-khair). Kedua adalah al-ma`ruf ini adalah kebaikan yang terbatas (lokal). Biasanya ini adalah adat istiadat. Ada adat kampung, mungkin saja ada adat kecamatan, Mungkin juga ada adat Kabupaten, Provinsi, Nasional, Asean, dsb, tapi tidak berlaku untuk semua manusia dan untuk semua tempat. Ketika kita berjalan dan melewati orang-orang yang duduk di depan rumah, di Bandung, biasa orang sambil menunduk, dengan tangan kanan terbuka miring, kemudian menyebutkan, “punteun: maaf”, maka yang duduk itu pun menjawab, “mangga: silahkan”. Ini kebaikan di wilayah Sunda dan menjadi tidak baik dipraktekkan di Paluta. Inilah yang disebut dengan al-ma`ruf, kebaikan lokal. Ketiga, al-hasan, ini adalah kebaikan dilihat dari kualitasnya. Contohnya, ketika kita berjumpa dengan teman, kita bersalaman. Ada juga orang selain bersalaman juga saling mengumbar senyum. Sikap ramah tamah itu kualitasnya secara psikologis berbeda. Yang membedakan itu adalah perasaan, yaitu perasaan bahagia. Berbeda dengan orang bersalaman, tapi mukanya masam (barnit). Keempat adalah al-birr, ini kebaikan dilihat dari kuantitasnya. Seseorang ada yang bersedekah Rp. 50.000, ada yang bersedekah dengan Rp. 50.000.000, dari sisi al-birr yang kedua lebih baik dari yang pertama.

Dari empat yang disebutkan di atas, Allah dalam al-Qur’an hanya menyebut, hendaknya manusia berlomba-lomba berbuat baik dengan al-khair yang bersifat universal.

Allah hanya dua kali menyebutkan manusia hendaknya berlomba-lomba dalam berbuat baik (al-khair), yaitu dalam Q.S. al-Baqarah/2:148 dan al-Maidah/5:48.

Ayat pertama teksnya adalah tentang kiblat beribadah setiap umat yang berbeda-beda. Masing-masing diminta bersaing untuk berbuat baik. Jika dihubungkan dengan sekolah contohnya, masing-masing sekolah berbeda-beda keunggulannya, maka diharapkan semua berlomba mencapai kebaikan itu dengan sportif dan ikhlas. Sportif berarti tidak usah sibuk menjelekkan orang lain, cukup kerja kita bersungguh-sungguh mencapai kebaikan yang universal.

Ayat yang kedua adalah kelanjutan dari ayat yang pertama persoalan syariat atau jalan menuju finish (hasil). Bisa disebut yang pertama berlomba-lomba sampai ke batas finish kebaikan. Sementara yang kedua, berlomba-lomba dalam hal proses. Contoh, ada orang menuju sukses itu dengan jujur, tanggung jawab, dan taat aturan. Sementara orang lain menuju sukses dengan kejujuran, tanggung jawab, taat aturan, dan silaturrahmi. Maka yang terakhir ini lebih baik.

Kenapa yang diminta oleh Allah kita فاسبقوا الخيرات bukan فاستبقوا المعروف bukan juga فاستبقوا الحسن, dan bukan juga فاستبقوا البر, hemat saya wilayah ini punya kesamaan dalam penilaian. Sementara yang lainnya, ukurannya tidak baku. Contoh al-ma`ruf, sangat segmentatif, baik untuk orang tertentu saja. Al-Hasan bersifat psikologis dan subyektif. Sementara al-birr sangat komparatif. Banyak bagi kita, sedikit bagi orang lain. Contohnya, kita mengasih sedekah anak yatim Rp. 200.000, bisa jadi dinilai banyak. Smentara Miliyader bersedekah kepada anak yatim Rp. 2.000.000 masih dinilainya sedikit. Begitu dan seterusnya, jadi فاسبقوا الخيرات sangat filosofis dan ilmiah.

Para penggemar kebaikan sudah menemukan nikmatnya berbuat baik, bagaikan anak-anak yang sudah menemukan kenikmatan bermain games. Begitu juga pemain catur yang ahli telah menemukan kenikmatan dalam bermain catur. Penggemar catur, mau mengajak orang yang jago bercatur dengannya walaupun ia harus mengeluarkan duit untuk  meneraktir makan minum lawannya. Semoga, kita tertarik berbuat baik. Sering-sering berbuat baik, bisa membuat kita candu berbuat baik. Jika sudah candu berbuat baik, itu berarti sudah menemukan manisnya kebaikan.

 

Semoga Bermanfaat.

 


NIKMAT BERBUAT BAIK


NIKMAT BERBUAT BAIK

DR. Sehat Sultoni Dalimunthe

 

Al-Qur’an menyebut 4 istilah untuk kebaikan. Pertama adalah al-khair, itu adalah kebaikan universal, tidak mengenal batas-batas geografis, suku, etnis, ekonomi dsb.  Contoh, bersikap jujur adalah sebuah kebaikan universal (al-khair). Kedua adalah al-ma`ruf ini adalah kebaikan yang terbatas (lokal). Biasanya ini adalah adat istiadat. Ada adat kampung, mungkin saja ada adat kecamatan, Mungkin juga ada adat Kabupaten, Provinsi, Nasional, Asean, dsb, tapi tidak berlaku untuk semua manusia dan untuk semua tempat. Ketika kita berjalan dan melewati orang-orang yang duduk di depan rumah, di Bandung, biasa orang sambil menunduk, dengan tangan kanan terbuka miring, kemudian menyebutkan, “punteun: maaf”, maka yang duduk itu pun menjawab, “mangga: silahkan”. Ini kebaikan di wilayah Sunda dan menjadi tidak baik dipraktekkan di Paluta. Inilah yang disebut dengan al-ma`ruf, kebaikan lokal. Ketiga, al-hasan, ini adalah kebaikan dilihat dari kualitasnya. Contohnya, ketika kita berjumpa dengan teman, kita bersalaman. Ada juga orang selain bersalaman juga saling mengumbar senyum. Sikap ramah tamah itu kualitasnya secara psikologis berbeda. Yang membedakan itu adalah perasaan, yaitu perasaan bahagia. Berbeda dengan orang bersalaman, tapi mukanya masam (barnit). Keempat adalah al-birr, ini kebaikan dilihat dari kuantitasnya. Seseorang ada yang bersedekah Rp. 50.000, ada yang bersedekah dengan Rp. 50.000.000, dari sisi al-birr yang kedua lebih baik dari yang pertama.

Dari empat yang disebutkan di atas, Allah dalam al-Qur’an hanya menyebut, hendaknya manusia berlomba-lomba berbuat baik dengan al-khair yang bersifat universal.

Allah hanya dua kali menyebutkan manusia hendaknya berlomba-lomba dalam berbuat baik (al-khair), yaitu dalam Q.S. al-Baqarah/2:148 dan al-Maidah/5:48.

Ayat pertama teksnya adalah tentang kiblat beribadah setiap umat yang berbeda-beda. Masing-masing diminta bersaing untuk berbuat baik. Jika dihubungkan dengan sekolah contohnya, masing-masing sekolah berbeda-beda keunggulannya, maka diharapkan semua berlomba mencapai kebaikan itu dengan sportif dan ikhlas. Sportif berarti tidak usah sibuk menjelekkan orang lain, cukup kerja kita bersungguh-sungguh mencapai kebaikan yang universal.

Ayat yang kedua adalah kelanjutan dari ayat yang pertama persoalan syariat atau jalan menuju finish (hasil). Bisa disebut yang pertama berlomba-lomba sampai ke batas finish kebaikan. Sementara yang kedua, berlomba-lomba dalam hal proses. Contoh, ada orang menuju sukses itu dengan jujur, tanggung jawab, dan taat aturan. Sementara orang lain menuju sukses dengan kejujuran, tanggung jawab, taat aturan, dan silaturrahmi. Maka yang terakhir ini lebih baik.

Kenapa yang diminta oleh Allah kita فاسبقوا الخيرات bukan فاستبقوا المعروف bukan juga فاستبقوا الحسن, dan bukan juga فاستبقوا البر, hemat saya wilayah ini punya kesamaan dalam penilaian. Sementara yang lainnya, ukurannya tidak baku. Contoh al-ma`ruf, sangat segmentatif, baik untuk orang tertentu saja. Al-Hasan bersifat psikologis dan subyektif. Sementara al-birr sangat komparatif. Banyak bagi kita, sedikit bagi orang lain. Contohnya, kita mengasih sedekah anak yatim Rp. 200.000, bisa jadi dinilai banyak. Smentara Miliyader bersedekah kepada anak yatim Rp. 2.000.000 masih dinilainya sedikit. Begitu dan seterusnya, jadi فاسبقوا الخيرات sangat filosofis dan ilmiah.

Para penggemar kebaikan sudah menemukan nikmatnya berbuat baik, bagaikan anak-anak yang sudah menemukan kenikmatan bermain games. Begitu juga pemain catur yang ahli telah menemukan kenikmatan dalam bermain catur. Penggemar catur, mau mengajak orang yang jago bercatur dengannya walaupun ia harus mengeluarkan duit untuk  meneraktir makan minum lawannya. Semoga, kita tertarik berbuat baik. Sering-sering berbuat baik, bisa membuat kita candu berbuat baik. Jika sudah candu berbuat baik, itu berarti sudah menemukan manisnya kebaikan.

 

Semoga Bermanfaat.

 


SD Plus Tadika Raya

SD Plus Tadika Raya
Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Saya

Foto saya
Kami Akan Menyajikan Informasi Buat Keluarga Besar Tadika Raya School dan juga Masyarakat Lain yang Membutuhkannya

MASA DEPAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Total Pageviews

Cari Blog Ini

Komentar

4/recentcomments

Terupdate

4/recentposts

Tadika Raya School

Tarikat Menuju Tuhan

Blog ini merupakan media informasi bagi Wali Murid Tadika Raya School dan Masyarakat yang membutuhkan. Dibuat oleh Yayasan Tadika Raya.


Tadika Raya School Aek Haruaya

Postingan Populer

PROFIL

Postingan Populer

Postingan Populer

© 2013 TADIKA RAYA SCHOOL. SD-Plus Tadika Raya | Powered by Blogger.
Blogger Template by Bloggertheme9 Published..Blogger Templates
back to top