SD PLUS TADIKA RAYA
MENCETAK GENERASI BERAKHLAK MULIA BERWAWASAN LUAS BERDASARKAN AL-QUR'AN
13 Agustus 2020
10 Agustus 2020
MISKIN HARTA KAYA SEMANGAT
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
Mungkin kita pernah mendengar, melihat, dan bahkan kenal dekat dengan orang yang tipenya "Miskin Harta Kaya Semangat". Kemismikinan tidak selamanya membuat orang patah semangat. Ada seorang Profesor di UIN Sunan Kali Djaga pada masa sekolah di MTs sebelum Shubuh di sudah jualan koran naik sepeda padinya ia harus sekolah naik sepeda juga. Karena kegigihannya dalam mencari rezeki yang halal akibat dari kemiskinan harta ditambah dengan kaya prestasi, sehingga ia kelak menjadi Dosen dan sampai mencapai gelar tertinggi, yaitu Profesor.
Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ada juga seorang mahasiswa penjaga mesjid. Dengan tekun belajar dan menjaga tugas sebagai penjaga mesid. Pekerjaan itu dilakukan akibat dari kemiskinan harta, tetapi ia kaya semangat dan prestasi. Kelak ia menjadi dosen di almamaternya dan juga mencapai puncak prestasi di kampus sebagai Profesor.
Ada juga seorang mahasiswa akibat dari kemiskinan harta, maka ia harus menarik becak di luar tugas kuliah. Ia mendayung becak untuk mencari nafkah. Kelak orang tersebut sukses menjadi pejabat dan pernah menjabat di Kanwil Kemenag sebagai Kabid Mapenda. Akhirnya ia sekarang bukan saja kaya jabatan, juga kaya harta.
Ada juga orang pada mulanya adalah seoang petani. Bukan seperti petani di pulau Jawa pemilik sawah yang luas, tetapi yang kerja orang lain. Ini memang memiliki sawah, tapi tidak tergolong luas. Mereka bertani bersungguh-sungguh. Akibat dari kaya semangat itu, akhirnya miskin harta berubah nasib menjadi kaya harta sebagai pengusaha muda.
Kisah singkat (lamhah) di atas adalah sebagian contoh dari kisah sukses banyak orang yang pada mulanya miskin harta, tetapi dengan kaya semangat, akhirnya mereka meraih kesuksesan dalam berbagai bidang, termasuk sukses menjadi orang yang kaya harta. Ini adalah pesan khusus bagi saudara-saudara yang merasa saat ini "miskin harta". Jangan sampai dengan kemiskinan, semangat menjadi lemah dan bahkan mati. Patah arang alias putus asa mengarungi perjuangan menuju sukses kosa kata yang tidak boleh terpikir, terdetik, dan terucap bagi mereka yang miskin harta. Lihatlah motivator, daya dorong untuk bersengat dari orang-orang yang di sekitarmu atau keluargamu, atau kisah yang bisa kamu baca dari orang-orang yang awalnya miskin harta, tumbuh menjadi orang sukses.
Jika terdetik, terpikir, dan teringat dengan kemiskinan bisa mengganjal semangat berjuang, cepatlah beristiadzah (mengucapkan أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : aku berlindung dari setan yang terkutuk). Tidak boleh kemiskinan menurunkan semangat berjuang. Untuk itulah kita harus berlindung dari bisikan setan yang mencoba mengingatkan kita bahwa miskin akan menjadi penghalang keberhasilan. Selanjutnya, cepatlah banyak berdzikir Allahu Akbar: Allah Maha Besar. Dengan usaha dan doa, kita harus yakin bahwa Allah akan membantu kita untuk keluar dari masalah. Buktinya banyak orang yang sukes padahal dulu mereka miskin. Tidak semua orang miskin yang sukses itu pintar, tapi yang jelas mereka sukes karena tekun, rajin juga dekat dengan Allah.
Untuk keluarga dari ketiadaaan, mati kita panggil Allah Yang Maha Kaya (al-ghani), untuk menutupi celah-celah kemiskinan, sehingga tidak menjadi penghambat dari perjuangan hidup. Kita panggil Allah Yang Maha Besar, yang bisa membuat kita berhasil mencapai cita-cita. Keyakinan bahwa Tuhan Maha Kuasa dan pasti Kuasa mengatasi semua masalah kita adalah hal yang perlu diperkuat oleh setiap manusia, termasuk bagi mereka yang merasa miskin harta. Untuk itulah, kita mencoba mendekati Yang Maha Kaya dengan berbagai kebaikan dengan mengikuti petunjukNya.
Semoga Bermanfaat.
MISKIN HARTA KAYA SEMANGAT
MISKIN HARTA KAYA SEMANGAT
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
Mungkin kita pernah mendengar, melihat, dan bahkan kenal dekat dengan orang yang tipenya "Miskin Harta Kaya Semangat". Kemismikinan tidak selamanya membuat orang patah semangat. Ada seorang Profesor di UIN Sunan Kali Djaga pada masa sekolah di MTs sebelum Shubuh di sudah jualan koran naik sepeda padinya ia harus sekolah naik sepeda juga. Karena kegigihannya dalam mencari rezeki yang halal akibat dari kemiskinan harta ditambah dengan kaya prestasi, sehingga ia kelak menjadi Dosen dan sampai mencapai gelar tertinggi, yaitu Profesor.
Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ada juga seorang mahasiswa penjaga mesjid. Dengan tekun belajar dan menjaga tugas sebagai penjaga mesid. Pekerjaan itu dilakukan akibat dari kemiskinan harta, tetapi ia kaya semangat dan prestasi. Kelak ia menjadi dosen di almamaternya dan juga mencapai puncak prestasi di kampus sebagai Profesor.
Ada juga seorang mahasiswa akibat dari kemiskinan harta, maka ia harus menarik becak di luar tugas kuliah. Ia mendayung becak untuk mencari nafkah. Kelak orang tersebut sukses menjadi pejabat dan pernah menjabat di Kanwil Kemenag sebagai Kabid Mapenda. Akhirnya ia sekarang bukan saja kaya jabatan, juga kaya harta.
Ada juga orang pada mulanya adalah seoang petani. Bukan seperti petani di pulau Jawa pemilik sawah yang luas, tetapi yang kerja orang lain. Ini memang memiliki sawah, tapi tidak tergolong luas. Mereka bertani bersungguh-sungguh. Akibat dari kaya semangat itu, akhirnya miskin harta berubah nasib menjadi kaya harta sebagai pengusaha muda.
Kisah singkat (lamhah) di atas adalah sebagian contoh dari kisah sukses banyak orang yang pada mulanya miskin harta, tetapi dengan kaya semangat, akhirnya mereka meraih kesuksesan dalam berbagai bidang, termasuk sukses menjadi orang yang kaya harta. Ini adalah pesan khusus bagi saudara-saudara yang merasa saat ini "miskin harta". Jangan sampai dengan kemiskinan, semangat menjadi lemah dan bahkan mati. Patah arang alias putus asa mengarungi perjuangan menuju sukses kosa kata yang tidak boleh terpikir, terdetik, dan terucap bagi mereka yang miskin harta. Lihatlah motivator, daya dorong untuk bersengat dari orang-orang yang di sekitarmu atau keluargamu, atau kisah yang bisa kamu baca dari orang-orang yang awalnya miskin harta, tumbuh menjadi orang sukses.
Jika terdetik, terpikir, dan teringat dengan kemiskinan bisa mengganjal semangat berjuang, cepatlah beristiadzah (mengucapkan أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : aku berlindung dari setan yang terkutuk). Tidak boleh kemiskinan menurunkan semangat berjuang. Untuk itulah kita harus berlindung dari bisikan setan yang mencoba mengingatkan kita bahwa miskin akan menjadi penghalang keberhasilan. Selanjutnya, cepatlah banyak berdzikir Allahu Akbar: Allah Maha Besar. Dengan usaha dan doa, kita harus yakin bahwa Allah akan membantu kita untuk keluar dari masalah. Buktinya banyak orang yang sukes padahal dulu mereka miskin. Tidak semua orang miskin yang sukses itu pintar, tapi yang jelas mereka sukes karena tekun, rajin juga dekat dengan Allah.
Untuk keluarga dari ketiadaaan, mati kita panggil Allah Yang Maha Kaya (al-ghani), untuk menutupi celah-celah kemiskinan, sehingga tidak menjadi penghambat dari perjuangan hidup. Kita panggil Allah Yang Maha Besar, yang bisa membuat kita berhasil mencapai cita-cita. Keyakinan bahwa Tuhan Maha Kuasa dan pasti Kuasa mengatasi semua masalah kita adalah hal yang perlu diperkuat oleh setiap manusia, termasuk bagi mereka yang merasa miskin harta. Untuk itulah, kita mencoba mendekati Yang Maha Kaya dengan berbagai kebaikan dengan mengikuti petunjukNya.
Semoga Bermanfaat.
07 Agustus 2020
MENGENANG TAPI BUKAN KENANGAN
06 Agustus 2020
AKSES JALAN MENUJU SIAIS PERLU DIPERBAIKI
05 Agustus 2020
Corona Mewabah Guru Jadi Sasaran
04 Agustus 2020
TAMAN SARASI SIPIROK
03 Agustus 2020
TAFAKKUR ALAM DI DANAU SIAIS
IKAN SUNGAI RANIATE BERSAHABAT DENGAN MANUSIA
30 Juli 2020
TADIKA RAYA SCHOOL (TRS) BERDOA
SENANGNYA MEMBERI 2
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
Di Zaman Presiden SBY, ada Bantuan Langsung Tunai untuk
orang-orang tidak mampu. Di sana sini banyak informasi bahwa yang mendapat
bantuan tidak semua tepat sasaran, bahkan orang-orang yang mampu minta diikutkan
mendapat bantuan, dimasukkan pada kelompok orang yang tidak mampu.
Begitu juga disetiap ada bantuan bagi orang yang tidak mampu,
sebagian kelompok yang mampu berusaha ikut menikmati bantuan itu. Terkadang
dengan bangga juga ada yang mengaku merasa bangga bahwa ia mendapat bantuan,
walaupun ia tergolong orang mampu. Belakangan ini, mereka yang mendapat
bantuan, diberi lebel tertentu, tetapi menurut informasi juga masih ada
sebagian yang tidak malu mendapat bantuan itu. Ini sebetulnya “mental tangan di
bawah” yang tidak dilegitimasi oleh agama Islam.
Mental yang normal, “kalangan penerima” mestinya malu, karena
bantuan itu atas dasar ketidakmampuannnya secara ekonomi. Namun sebagian sudah
punya mental tangan di bawah. Menerima yang terhormat dan tidak perlu malu dan
sebaliknya mungkin kebanggaan adalah atas dasar prestasi. Mendapat hadiah dari
berbagai kejuaraan, ini hal yang membanggakan. Mendapat beasiswa karena
prestasi akademik, ini menjadi kebanggaan, tetapi menerima, akibat dari
kelemahan, konsepnya adalah “tidak diharapkan”
Ada kisahnya terjadi di Medan, menjelang lebarang, panitia
zakat fitrah mendistribusikan kepada masyarakat yang telah didaftarkan sebagai
penerima. Begitu ingin diserahkan zakat fitrah ini kepada salah seorang yang
dinilai oleh panitia sebagai mustahaq, orang tersebut mengatakan, “Saya masih
mampu membayar zakat fitrah!”. Sikap
panitia tentu malu karena memperlakukannya sebagai orang yang tidak mampu,
sehingga harus diberikan zakat fitrah.
Kasus ini sangat terekam dalam ingatan dan bayangan orang
tersebut. Saya bangga mendengar komentar orang tersebut, sebab jika ia pun
dipersepsi orang yang berhak menerima zakat fitrah, ia menolak menerimanya
dengan alasan ia masih mampu berzakat fitrah, ini adalah potret dari `iffah. Orang
melihat dirinya lemah secara ekonomi, sementara ia menilai tidak. Ia tidak
ingin diberi, sebaliknya ia lebih tertarik untuk memberi. Namun baru kali itu
saya dengan yang menolak pemberian zakat fitrah. Mungkin masih banyak kasus
lain yang tidak kita ketahui. Kisah sebaliknya sering kita dengan ada orang
yang meminta dimasukkan dalam golongan ekonomi lemah, sehingga berhak menerima
bantuan.
Semoga bermanfaat.
SENANGNYA BERBUAT BAIK 2
SENANGNYA MEMBERI 2
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
Di Zaman Presiden SBY, ada Bantuan Langsung Tunai untuk
orang-orang tidak mampu. Di sana sini banyak informasi bahwa yang mendapat
bantuan tidak semua tepat sasaran, bahkan orang-orang yang mampu minta diikutkan
mendapat bantuan, dimasukkan pada kelompok orang yang tidak mampu.
Begitu juga disetiap ada bantuan bagi orang yang tidak mampu,
sebagian kelompok yang mampu berusaha ikut menikmati bantuan itu. Terkadang
dengan bangga juga ada yang mengaku merasa bangga bahwa ia mendapat bantuan,
walaupun ia tergolong orang mampu. Belakangan ini, mereka yang mendapat
bantuan, diberi lebel tertentu, tetapi menurut informasi juga masih ada
sebagian yang tidak malu mendapat bantuan itu. Ini sebetulnya “mental tangan di
bawah” yang tidak dilegitimasi oleh agama Islam.
Mental yang normal, “kalangan penerima” mestinya malu, karena
bantuan itu atas dasar ketidakmampuannnya secara ekonomi. Namun sebagian sudah
punya mental tangan di bawah. Menerima yang terhormat dan tidak perlu malu dan
sebaliknya mungkin kebanggaan adalah atas dasar prestasi. Mendapat hadiah dari
berbagai kejuaraan, ini hal yang membanggakan. Mendapat beasiswa karena
prestasi akademik, ini menjadi kebanggaan, tetapi menerima, akibat dari
kelemahan, konsepnya adalah “tidak diharapkan”
Ada kisahnya terjadi di Medan, menjelang lebarang, panitia
zakat fitrah mendistribusikan kepada masyarakat yang telah didaftarkan sebagai
penerima. Begitu ingin diserahkan zakat fitrah ini kepada salah seorang yang
dinilai oleh panitia sebagai mustahaq, orang tersebut mengatakan, “Saya masih
mampu membayar zakat fitrah!”. Sikap
panitia tentu malu karena memperlakukannya sebagai orang yang tidak mampu,
sehingga harus diberikan zakat fitrah.
Kasus ini sangat terekam dalam ingatan dan bayangan orang
tersebut. Saya bangga mendengar komentar orang tersebut, sebab jika ia pun
dipersepsi orang yang berhak menerima zakat fitrah, ia menolak menerimanya
dengan alasan ia masih mampu berzakat fitrah, ini adalah potret dari `iffah. Orang
melihat dirinya lemah secara ekonomi, sementara ia menilai tidak. Ia tidak
ingin diberi, sebaliknya ia lebih tertarik untuk memberi. Namun baru kali itu
saya dengan yang menolak pemberian zakat fitrah. Mungkin masih banyak kasus
lain yang tidak kita ketahui. Kisah sebaliknya sering kita dengan ada orang
yang meminta dimasukkan dalam golongan ekonomi lemah, sehingga berhak menerima
bantuan.
Semoga bermanfaat.
26 Juli 2020
SENANGNYA MEMBERI 1
23 Juli 2020
NIKMAT
BERBUAT BAIK
DR.
Sehat Sultoni Dalimunthe
Al-Qur’an menyebut 4 istilah untuk
kebaikan. Pertama adalah al-khair, itu adalah kebaikan universal, tidak
mengenal batas-batas geografis, suku, etnis, ekonomi dsb. Contoh, bersikap jujur adalah sebuah kebaikan
universal (al-khair). Kedua adalah al-ma`ruf ini adalah kebaikan
yang terbatas (lokal). Biasanya ini adalah adat istiadat. Ada adat kampung,
mungkin saja ada adat kecamatan, Mungkin juga ada adat Kabupaten, Provinsi,
Nasional, Asean, dsb, tapi tidak berlaku untuk semua manusia dan untuk semua
tempat. Ketika kita berjalan dan melewati orang-orang yang duduk di depan
rumah, di Bandung, biasa orang sambil menunduk, dengan tangan kanan terbuka
miring, kemudian menyebutkan, “punteun: maaf”, maka yang duduk itu pun
menjawab, “mangga: silahkan”. Ini kebaikan di wilayah Sunda dan menjadi
tidak baik dipraktekkan di Paluta. Inilah yang disebut dengan al-ma`ruf,
kebaikan lokal. Ketiga, al-hasan, ini adalah kebaikan dilihat dari
kualitasnya. Contohnya, ketika kita berjumpa dengan teman, kita bersalaman. Ada
juga orang selain bersalaman juga saling mengumbar senyum. Sikap ramah tamah
itu kualitasnya secara psikologis berbeda. Yang membedakan itu adalah perasaan,
yaitu perasaan bahagia. Berbeda dengan orang bersalaman, tapi mukanya masam (barnit).
Keempat adalah al-birr, ini kebaikan dilihat dari kuantitasnya. Seseorang
ada yang bersedekah Rp. 50.000, ada yang bersedekah dengan Rp. 50.000.000, dari
sisi al-birr yang kedua lebih baik dari yang pertama.
Dari empat yang disebutkan di atas,
Allah dalam al-Qur’an hanya menyebut, hendaknya manusia berlomba-lomba berbuat
baik dengan al-khair yang bersifat universal.
Allah hanya dua kali menyebutkan
manusia hendaknya berlomba-lomba dalam berbuat baik (al-khair), yaitu
dalam Q.S. al-Baqarah/2:148 dan al-Maidah/5:48.
Ayat pertama teksnya adalah tentang
kiblat beribadah setiap umat yang berbeda-beda. Masing-masing diminta bersaing
untuk berbuat baik. Jika dihubungkan dengan sekolah contohnya, masing-masing
sekolah berbeda-beda keunggulannya, maka diharapkan semua berlomba mencapai
kebaikan itu dengan sportif dan ikhlas. Sportif berarti tidak usah sibuk
menjelekkan orang lain, cukup kerja kita bersungguh-sungguh mencapai kebaikan
yang universal.
Ayat yang kedua adalah kelanjutan
dari ayat yang pertama persoalan syariat atau jalan menuju finish (hasil).
Bisa disebut yang pertama berlomba-lomba sampai ke batas finish
kebaikan. Sementara yang kedua, berlomba-lomba dalam hal proses. Contoh, ada
orang menuju sukses itu dengan jujur, tanggung jawab, dan taat aturan.
Sementara orang lain menuju sukses dengan kejujuran, tanggung jawab, taat
aturan, dan silaturrahmi. Maka yang terakhir ini lebih baik.
Kenapa yang diminta oleh Allah kita فاسبقوا
الخيرات
bukan فاستبقوا
المعروف bukan juga فاستبقوا
الحسن, dan bukan
juga فاستبقوا البر, hemat
saya wilayah ini punya kesamaan dalam penilaian. Sementara yang lainnya,
ukurannya tidak baku. Contoh al-ma`ruf, sangat segmentatif, baik untuk
orang tertentu saja. Al-Hasan bersifat psikologis dan subyektif.
Sementara al-birr sangat komparatif. Banyak bagi kita, sedikit bagi
orang lain. Contohnya, kita mengasih sedekah anak yatim Rp. 200.000, bisa jadi dinilai
banyak. Smentara Miliyader bersedekah kepada anak yatim Rp. 2.000.000 masih
dinilainya sedikit. Begitu dan seterusnya, jadi فاسبقوا
الخيرات sangat
filosofis dan ilmiah.
Para penggemar kebaikan sudah menemukan
nikmatnya berbuat baik, bagaikan anak-anak yang sudah menemukan kenikmatan
bermain games. Begitu juga pemain catur yang ahli telah menemukan kenikmatan
dalam bermain catur. Penggemar catur, mau mengajak orang yang jago bercatur
dengannya walaupun ia harus mengeluarkan duit untuk meneraktir makan minum lawannya. Semoga, kita
tertarik berbuat baik. Sering-sering berbuat baik, bisa membuat kita candu
berbuat baik. Jika sudah candu berbuat baik, itu berarti sudah menemukan
manisnya kebaikan.
Semoga Bermanfaat.
NIKMAT BERBUAT BAIK
NIKMAT
BERBUAT BAIK
DR.
Sehat Sultoni Dalimunthe
Al-Qur’an menyebut 4 istilah untuk
kebaikan. Pertama adalah al-khair, itu adalah kebaikan universal, tidak
mengenal batas-batas geografis, suku, etnis, ekonomi dsb. Contoh, bersikap jujur adalah sebuah kebaikan
universal (al-khair). Kedua adalah al-ma`ruf ini adalah kebaikan
yang terbatas (lokal). Biasanya ini adalah adat istiadat. Ada adat kampung,
mungkin saja ada adat kecamatan, Mungkin juga ada adat Kabupaten, Provinsi,
Nasional, Asean, dsb, tapi tidak berlaku untuk semua manusia dan untuk semua
tempat. Ketika kita berjalan dan melewati orang-orang yang duduk di depan
rumah, di Bandung, biasa orang sambil menunduk, dengan tangan kanan terbuka
miring, kemudian menyebutkan, “punteun: maaf”, maka yang duduk itu pun
menjawab, “mangga: silahkan”. Ini kebaikan di wilayah Sunda dan menjadi
tidak baik dipraktekkan di Paluta. Inilah yang disebut dengan al-ma`ruf,
kebaikan lokal. Ketiga, al-hasan, ini adalah kebaikan dilihat dari
kualitasnya. Contohnya, ketika kita berjumpa dengan teman, kita bersalaman. Ada
juga orang selain bersalaman juga saling mengumbar senyum. Sikap ramah tamah
itu kualitasnya secara psikologis berbeda. Yang membedakan itu adalah perasaan,
yaitu perasaan bahagia. Berbeda dengan orang bersalaman, tapi mukanya masam (barnit).
Keempat adalah al-birr, ini kebaikan dilihat dari kuantitasnya. Seseorang
ada yang bersedekah Rp. 50.000, ada yang bersedekah dengan Rp. 50.000.000, dari
sisi al-birr yang kedua lebih baik dari yang pertama.
Dari empat yang disebutkan di atas,
Allah dalam al-Qur’an hanya menyebut, hendaknya manusia berlomba-lomba berbuat
baik dengan al-khair yang bersifat universal.
Allah hanya dua kali menyebutkan
manusia hendaknya berlomba-lomba dalam berbuat baik (al-khair), yaitu
dalam Q.S. al-Baqarah/2:148 dan al-Maidah/5:48.
Ayat pertama teksnya adalah tentang
kiblat beribadah setiap umat yang berbeda-beda. Masing-masing diminta bersaing
untuk berbuat baik. Jika dihubungkan dengan sekolah contohnya, masing-masing
sekolah berbeda-beda keunggulannya, maka diharapkan semua berlomba mencapai
kebaikan itu dengan sportif dan ikhlas. Sportif berarti tidak usah sibuk
menjelekkan orang lain, cukup kerja kita bersungguh-sungguh mencapai kebaikan
yang universal.
Ayat yang kedua adalah kelanjutan
dari ayat yang pertama persoalan syariat atau jalan menuju finish (hasil).
Bisa disebut yang pertama berlomba-lomba sampai ke batas finish
kebaikan. Sementara yang kedua, berlomba-lomba dalam hal proses. Contoh, ada
orang menuju sukses itu dengan jujur, tanggung jawab, dan taat aturan.
Sementara orang lain menuju sukses dengan kejujuran, tanggung jawab, taat
aturan, dan silaturrahmi. Maka yang terakhir ini lebih baik.
Kenapa yang diminta oleh Allah kita فاسبقوا
الخيرات
bukan فاستبقوا
المعروف bukan juga فاستبقوا
الحسن, dan bukan
juga فاستبقوا البر, hemat
saya wilayah ini punya kesamaan dalam penilaian. Sementara yang lainnya,
ukurannya tidak baku. Contoh al-ma`ruf, sangat segmentatif, baik untuk
orang tertentu saja. Al-Hasan bersifat psikologis dan subyektif.
Sementara al-birr sangat komparatif. Banyak bagi kita, sedikit bagi
orang lain. Contohnya, kita mengasih sedekah anak yatim Rp. 200.000, bisa jadi dinilai
banyak. Smentara Miliyader bersedekah kepada anak yatim Rp. 2.000.000 masih
dinilainya sedikit. Begitu dan seterusnya, jadi فاسبقوا
الخيرات sangat
filosofis dan ilmiah.
Para penggemar kebaikan sudah menemukan
nikmatnya berbuat baik, bagaikan anak-anak yang sudah menemukan kenikmatan
bermain games. Begitu juga pemain catur yang ahli telah menemukan kenikmatan
dalam bermain catur. Penggemar catur, mau mengajak orang yang jago bercatur
dengannya walaupun ia harus mengeluarkan duit untuk meneraktir makan minum lawannya. Semoga, kita
tertarik berbuat baik. Sering-sering berbuat baik, bisa membuat kita candu
berbuat baik. Jika sudah candu berbuat baik, itu berarti sudah menemukan
manisnya kebaikan.
Semoga Bermanfaat.
Category
- 1
- Aek Haruaya
- Akses Jalan
- Alumni Perdana
- Anak Ceria
- Beban Yang Seimbang
- berita
- Corona Mewabah
- Danau Siais
- Data Guru dan Murid
- Diskusi
- Galeri
- Galeri Kegiatan
- Guru Baru
- Guru Jadi Sasaran
- Imam Zarkasyi
- kegiatan
- Kenangan
- Lelah Kerja Pun Tergantikan
- Luring
- Mengarsipkan Pembanguan TRS
- Mengenang
- Murid
- Nasehat
- Nikmat Berbuat Baik
- Orang Baik Didoakan
- Panca Jiwa
- Pengenalan Lingkungan Sekolah
- Pertama Masuk Sekolah
- RA
- RA Tadika Raya
- Raniate
- Rumi
- SD PLUS
- SD Plus Tadika Raya
- Senang Berbagi
- Senang Memberi
- Sipirok
- Start Small
- Syafii
- Tadika Raya
- Tafakkur Alam
- tahap demi tahap
- Taman Sarasi
- to be a Big Later
- TRS
SD Plus Tadika Raya
Tentang Saya
- S2D
- Kami Akan Menyajikan Informasi Buat Keluarga Besar Tadika Raya School dan juga Masyarakat Lain yang Membutuhkannya
Formulir Kontak
Followers
Total Pageviews
Cari Blog Ini
Tag
- 1
- Aek Haruaya
- Akses Jalan
- Alumni Perdana
- Anak Ceria
- Beban Yang Seimbang
- berita
- Corona Mewabah
- Danau Siais
- Data Guru dan Murid
- Diskusi
- Galeri
- Galeri Kegiatan
- Guru Baru
- Guru Jadi Sasaran
- Imam Zarkasyi
- kegiatan
- Kenangan
- Lelah Kerja Pun Tergantikan
- Luring
- Mengarsipkan Pembanguan TRS
- Mengenang
- Murid
- Nasehat
- Nikmat Berbuat Baik
- Orang Baik Didoakan
- Panca Jiwa
- Pengenalan Lingkungan Sekolah
- Pertama Masuk Sekolah
- RA
- RA Tadika Raya
- Raniate
- Rumi
- SD PLUS
- SD Plus Tadika Raya
- Senang Berbagi
- Senang Memberi
- Sipirok
- Start Small
- Syafii
- Tadika Raya
- Tafakkur Alam
- tahap demi tahap
- Taman Sarasi
- to be a Big Later
- TRS
Komentar
Terupdate
Tadika Raya School
Tarikat Menuju Tuhan
Blog ini merupakan media informasi bagi Wali Murid Tadika Raya School dan Masyarakat yang membutuhkan. Dibuat oleh Yayasan Tadika Raya.
Tadika Raya School Aek Haruaya
Postingan Populer
-
Corona Mewabah Guru Jadi Sasaran Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe Sejak 2/3 bulan Maret 2020, pendidikan Indonesia merana. Juli 2020, diharapkan...
-
ALUMNI PERDANA RA TADIKA RAYA AEK HARUAYA TAHUN AKADEMIK 2019-2020 Dalam banyak hal, sesuatu yang pertama menjadi perhatian dan kenangan. Po...
-
BEBAN YANG SEIMBANG DENGAN KEMAMPUAN Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe Bagi siapa saja yang membaca al-Qur'an, secara sadar atau tidak pa...
PROFIL
Postingan Populer
-
Corona Mewabah Guru Jadi Sasaran Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe Sejak 2/3 bulan Maret 2020, pendidikan Indonesia merana. Juli 2020, diharapkan...
-
ALUMNI PERDANA RA TADIKA RAYA AEK HARUAYA TAHUN AKADEMIK 2019-2020 Dalam banyak hal, sesuatu yang pertama menjadi perhatian dan kenangan. Po...
-
BEBAN YANG SEIMBANG DENGAN KEMAMPUAN Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe Bagi siapa saja yang membaca al-Qur'an, secara sadar atau tidak pa...
Postingan Populer
-
Corona Mewabah Guru Jadi Sasaran Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe Sejak 2/3 bulan Maret 2020, pendidikan Indonesia merana. Juli 2020, diharapkan...
-
ALUMNI PERDANA RA TADIKA RAYA AEK HARUAYA TAHUN AKADEMIK 2019-2020 Dalam banyak hal, sesuatu yang pertama menjadi perhatian dan kenangan. Po...
-
BEBAN YANG SEIMBANG DENGAN KEMAMPUAN Dr. Sehat Sultoni Dalimunthe Bagi siapa saja yang membaca al-Qur'an, secara sadar atau tidak pa...
Prayer Times
Tags
- 1
- Aek Haruaya
- Akses Jalan
- Alumni Perdana
- Anak Ceria
- Beban Yang Seimbang
- berita
- Corona Mewabah
- Danau Siais
- Data Guru dan Murid
- Diskusi
- Galeri
- Galeri Kegiatan
- Guru Baru
- Guru Jadi Sasaran
- Imam Zarkasyi
- kegiatan
- Kenangan
- Lelah Kerja Pun Tergantikan
- Luring
- Mengarsipkan Pembanguan TRS
- Mengenang
- Murid
- Nasehat
- Nikmat Berbuat Baik
- Orang Baik Didoakan
- Panca Jiwa
- Pengenalan Lingkungan Sekolah
- Pertama Masuk Sekolah
- RA
- RA Tadika Raya
- Raniate
- Rumi
- SD PLUS
- SD Plus Tadika Raya
- Senang Berbagi
- Senang Memberi
- Sipirok
- Start Small
- Syafii
- Tadika Raya
- Tafakkur Alam
- tahap demi tahap
- Taman Sarasi
- to be a Big Later
- TRS





































